Otoritas fiskal dan moneter memperkuat sinergi kebijakan untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut.

Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada bulan lalu.

>>> Polda Jabar Tunda Operasi Patuh Lodaya 2026, Ini Alasannya

Namun, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah berada di level Rp18.039 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Angka tersebut menunjukkan depresiasi sebesar 7,86% sejak awal tahun dan menjadi level kurs terendah sepanjang sejarah.

Strategi Menaikkan Yield Obligasi

Salah satu langkah yang diambil adalah mengerek imbal hasil (yield) obligasi domestik untuk menarik kembali aliran modal asing.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa yield obligasi di negara maju sedang meningkat, memicu investor global mengalihkan modal ke negara maju.

Hal ini menyebabkan aliran modal keluar (outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk dan mendukung stabilitas nilai tukar,” kata Perry dalam konferensi pers di DPR, Sabtu (6/6/2026).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 2 Juni 2026, pasar SBN mencatat outflow neto sebesar Rp10,8 triliun sepanjang tahun berjalan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor terhadap surat utang negara.

“Biasanya kalau bond [obligasi] tuh investor jangka lebih panjang kan,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kemenkeu, Jumat (5/6/2026).

Ia menilai pemodal jangka panjang masih percaya pada prospek ekonomi domestik, dengan contoh inflow neto Rp14,4 triliun di pasar SBN pada 1 April hingga 3 Juni 2026.