Permintaan terhadap SBN tetap tinggi, terlihat dari bid-to-cover ratio lelang SUN sebesar 2,6x dan lelang SBSN sebesar 1,8x.

Namun, situasi ini dibayar dengan melebarnya spread yield antara SBN 10 tahun dan US Treasury 10 tahun.

Spread yield melebar dari 191 basis poin pada awal tahun (yield SBN 6,08% dan UST 4,17%) menjadi 219 basis poin pada awal Juni 2026 (yield SBN 6,68% dan UST 4,49%).

Hal ini menunjukkan investor menuntut premi risiko lebih tinggi untuk memegang obligasi Indonesia.

Dampak dan Risiko Kebijakan

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai instrumen ini dapat bekerja cepat menstabilkan ekspektasi pasar saat rupiah terdepresiasi tajam.

>>> PT Citra Tubindo Tbk Bagikan Dividen Rp 465 per Saham, Catat Jadwalnya

“Saluran carry trade [selisih suku bunga] merupakan salah satu mekanisme yang paling responsif untuk tujuan tersebut.

Dibandingkan terus mengandalkan intervensi yang menguras cadangan devisa, strategi ini dapat dipahami sebagai upaya membeli waktu,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (7/6/2026).

Yusuf mengingatkan adanya konsekuensi biaya utang yang membengkak akibat yield tinggi, terlebih pelemahan rupiah menambah beban bunga dan kewajiban valas.

Lonjakan biaya bunga berisiko memperlebar tekanan fiskal dan memicu kenaikan premi risiko.

Karakteristik dana masuk yang dipicu yield tinggi umumnya berjangka pendek dan rawan keluar cepat.

Yusuf menyarankan otoritas memanfaatkan momentum membaiknya kondisi global untuk membenahi profil utang lewat manajemen liabilitas.

“Melalui manajemen liabilitas, misalnya debt switch atau buyback, sehingga beban bunga dan risiko jatuh tempo dapat lebih terkendali,” tutupnya.

Ketahanan fiskal Indonesia belakangan mendapat sorotan dari lembaga internasional seperti Fitch Ratings hingga OECD.