Rotasi Bumi secara bertahap melambat akibat pencairan gletser dan lapisan es kutub yang dipicu oleh perubahan iklim.

Fenomena ini menyebabkan redistribusi air di seluruh planet dan secara perlahan memperpanjang durasi siang hari.

>>> Ruben Onsu Pilih Tuntut Hak Asuh Anak, Abaikan Permintaan Maaf Sarwendah

Studi terbaru dari Universitas Wina dan ETH Zürich mengungkapkan bahwa peningkatan durasi siang hari saat ini mencapai 1,33 milidetik per abad.

Laju ini belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya dalam 3,6 juta tahun terakhir.

Para peneliti memanfaatkan foraminifera bentik untuk menyelidiki pengaruh iklim terhadap rotasi Bumi pada masa lampau.

Organisme laut mikroskopis ini memiliki cangkang fosil yang menyimpan bukti perubahan permukaan laut purba.

Melalui metode tersebut, tim ilmuwan merekonstruksi fluktuasi panjang hari sejak akhir Pliosen, sekitar 3,6 juta tahun yang lalu.

Hasilnya menunjukkan bahwa kecepatan perubahan saat ini jauh lebih mencolok daripada fluktuasi masa lalu.

Sepanjang abad ke-21, percepatan pencairan lapisan es Greenland dan Antartika, serta gletser pegunungan, telah meningkatkan permukaan laut. Kondisi ini menggeser massa menjauh dari kutub menuju khatulistiwa.

Pergeseran massa tersebut membuat bentuk Bumi sedikit menggembung di bagian khatulistiwa, sehingga planet berputar lebih lambat.

Dampak kontemporer dari perubahan iklim ini dinilai tidak tertandingi dalam jutaan tahun terakhir.

"Peningkatan pesat panjang hari ini menyiratkan bahwa laju perubahan iklim modern belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya sejak akhir Pliosen, 3,6 juta tahun yang lalu," kata Benedikt Soja, Profesor Geodesi Antariksa di ETH Zurich.

>>> Mengenal Fairypresso, Tren Minum Espresso Unik dari Kelopak Bunga

"Oleh karena itu, peningkatan pesat panjang hari saat ini terutama dapat dikaitkan dengan pengaruh manusia."