Nilai tukar rupiah yang menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat pada Minggu (7/6/2026) memberikan tekanan berat bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) tekstil di Indonesia.

Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga bahan baku hingga 20 persen akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.

>>> Timnas Indonesia U-19 Lolos ke Semifinal Usai Tekuk Vietnam 2-1

Kenaikan tersebut meningkatkan biaya pembelian bahan baku impor bagi sektor industri tekstil dan produk tekstil nasional.

Pengusaha Minta Respons Kebijakan

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman menilai situasi ini memerlukan respons kebijakan yang tepat dari pemerintah guna menjaga keberlangsungan sektor usaha tersebut.

"Sentra-sentra industri dan pelaku IKM harus dihidupkan kembali. Pasar offline perlu digerakkan supaya uang bisa berputar di daerah," ujar Nandi.

Pemerintah juga didorong untuk mempercepat program revitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah demi memperkuat daya tahan para pelaku usaha konveksi di tengah persaingan pasar yang ketat.

"IKM dalam negeri sudah terbukti tahan banting. Dari masa Covid-19 sampai sekarang, kami terus bertahan walaupun kondisi pasar tidak stabil.

>>> Timnas U19 Indonesia Lolos ke Semifinal Usai Tekuk Vietnam

Namun, jika pemerintah terlambat merespons dan tidak melihat kondisi di lapangan secara langsung, saya khawatir angka pengangguran akan semakin bertambah," tegas Nandi.

Selain revitalisasi, IPKB mengharapkan penguatan pengawasan terhadap barang impor ilegal di pasar domestik serta penegakan hukum perdagangan ilegal demi iklim usaha yang sehat.

Langkah pengawasan ketat juga diminta diterapkan pada kanal e-commerce untuk melindungi produk lokal.

"Sejauh ini mayoritas IKM tekstil masih bertahan dan belum melakukan PHK.

>>> ASICS Gelar Global Running Day 2026 Serentak di 10 Kota Indonesia

Namun, kondisi ini perlu terus dijaga agar tekanan biaya tidak berkembang menjadi masalah ketenagakerjaan yang lebih besar," kata Nandi.