Ketika kewajiban ini tetap diabaikan, persoalan mendasar ada pada hati yang belum tergerak.

Buya Yahya mengingatkan bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar, dan kesulitan menjalankannya bisa berakar dari masalah pemahaman.

>>> Stanley Rilis Tumbler Edisi Terbatas Bertema Sepak Bola di Jakarta

Faktor yang Memengaruhi Motivasi Ibadah

Beberapa faktor internal dan eksternal memengaruhi motivasi seseorang dalam beribadah. Pertama, melemahnya kesadaran spiritual membuat shalat hanya menjadi rutinitas tanpa makna.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, disebutkan bahwa hati yang lalai menjadi penghalang utama kekhusyukan. Kondisi batin yang tidak hadir membuat fisik enggan dan malas bergerak untuk ibadah.

Kedua, dominasi urusan duniawi dan kesibukan modern sering membuat waktu shalat dianggap sebagai hambatan produktivitas. Padahal, shalat berfungsi menata ulang fokus hidup.

Mohammed Faris dalam buku The Productive Muslim menyebutkan bahwa shalat berperan sebagai jangkar spiritual untuk menjaga keseimbangan dunia dan akhirat.

Ketiga, kurangnya pemahaman terhadap arti bacaan dan gerakan membuat ibadah terasa monoton.

Sayyid Sabiq melalui buku Fiqh Sunnah menjelaskan bahwa mengerti makna bacaan dapat meningkatkan kekhusyukan dan rasa nikmat.

Keempat, pengaruh lingkungan sosial, baik di rumah maupun tempat kerja, turut menentukan konsistensi ibadah. Lingkungan yang abai akan memperbesar potensi seseorang meninggalkan shalat.

Buya Yahya menekankan pentingnya peran aktif keluarga dalam menjaga ibadah. "Jangan sampai ada di rumah kita satu orang yang tidak shalat.

Sebab bisa dicabut rahmat dari rumah tersebut," tegasnya.

Secara teologis, kemampuan beribadah berjalan atas izin Allah, namun manusia tetap memiliki tanggung jawab penuh atas usahanya. Konsep ini menuntut keseimbangan antara takdir dan ikhtiar.

Hasan Al-Banna dalam buku Aqidah Islam menjelaskan bahwa setiap individu wajib berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Pelatihan diri secara konsisten menjadi kunci agar shalat tidak lagi terasa membebani.

Dalam perspektif ritual, shalat merupakan kehormatan spiritual tertinggi. Rasulullah SAW bersabda, "Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud" (HR.

Muslim).

>>> BPOM Temukan Kopi Lokal Mengandung Bahan Berbahaya, Picu Gagal Ginjal

Buya Yahya menambahkan bahwa kesempatan sujud adalah bentuk kasih sayang khusus kepada manusia. "Kalau Anda masih diizinkan sujud, ketahuilah Anda masih dicintai oleh Allah," ujarnya.