Shalat merupakan inti hubungan spiritual antara hamba dan Tuhan dalam ajaran Islam. Namun, tidak sedikit umat Islam dari berbagai kalangan yang merasa ibadah ini berat dilakukan secara konsisten.

Secara syariat, Islam memberikan banyak kemudahan atau rukhsah dalam pelaksanaan shalat, termasuk bagi yang sakit atau memiliki keterbatasan fisik.

>>> Lifestyle Bagikan Cara Redakan Efek Samping Terapi Kanker Anak

Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa agama tidak menghendaki kesulitan bagi pemeluknya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 286, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya."

Kendati demikian, hambatan utama dalam mendirikan shalat sering kali bukan pada faktor teknis, melainkan pada aspek psikologis dan kondisi hati.

Al-Qur'an sendiri mengonfirmasi bahwa shalat terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Penyebab Beratnya Shalat Menurut Buya Yahya

Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan bahwa kemudahan beribadah berkaitan erat dengan aspek spiritual. Tidak semua orang diberi kelancaran fisik untuk shalat meski mereka kuat beraktivitas lain.

"Ada orang kuat bekerja berjam-jam, tapi giliran disuruh shalat tidak bisa. Padahal shalat itu ringan.

Ini tanda bahwa tidak semua orang diizinkan oleh Allah untuk menghadap-Nya," ujar Buya Yahya, dikutip dari channel YouTube Al-Bahjah TV, Rabu (6/5/2026).

Islam telah menyederhanakan bacaan inti shalat agar mudah diamalkan.

Rangkaian bacaan wajib tersebut sangat terbatas dan menjadi sarana komunikasi langsung untuk memuji serta memohon keselamatan kepada Allah.

Shalat dimulai dengan takbiratul ihram: "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar), dilanjutkan Surah Al-Fatihah, tasyahud, shalawat, dan diakhiri salam.

Buya Yahya menegaskan bahwa struktur bacaan wajib ini sebenarnya sangat ringkas.

"Bacaan salat itu tidak banyak. Takbir, Fatihah, tasyahud, shalawat, lalu salam," jelasnya.