Langkah Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dinilai sangat komprehensif.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, mengatakan otoritas moneter dan fiskal telah mengerahkan berbagai instrumen untuk mengantisipasi potensi pelarian modal asing di tengah ketidakpastian global.

>>> PT Mayora Indah Tbk Optimistis Dongkrak Kinerja Ekspor Tahun 2026

Menurutnya, salah satu instrumen yang cukup efektif untuk menarik kembali aliran dana asing adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Saat ini, spread imbal hasil SRBI tenor 12 bulan terhadap BI Rate telah mencapai lebih dari 200 basis poin (bps), yang dinilai sudah cukup menarik bagi investor.

Namun, jika tekanan terhadap rupiah semakin besar, BI masih memiliki ruang untuk meningkatkan spread tersebut guna memperkuat daya tarik aset domestik.

"Kalau memang dirasa mata uang rupiah kita itu melemahnya semakin tajam, ya pasti BI terus melakukan kenaikan spread, bisa jadi 250 bps atau malah mungkin bisa sampai 275 bps," ujar Myrdal kepada Kontan.

co. id, Minggu (7/6/2026).

Myrdal menilai tekanan di pasar keuangan saat ini tidak semata-mata berasal dari faktor domestik.

Arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia lebih banyak dipicu sentimen global, termasuk aksi rebalancing indeks MSCI serta kecenderungan investor global mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah negara lain seperti India, Filipina, hingga Malaysia yang mata uangnya turut mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Di sisi lain, Myrdal menilai fundamental fiskal Indonesia masih dalam kondisi sangat baik.

Ia menyoroti defisit anggaran yang masih terkendali di level sekitar 0,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Mei, meski pemerintah tengah mempercepat realisasi belanja negara.