Kinerja penerimaan negara juga dinilai solid, ditopang oleh pertumbuhan penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), maupun Pajak Penghasilan (PPh).

Myrdal menambahkan, tantangan yang perlu diperkuat ke depan adalah aspek komunikasi kebijakan pemerintah kepada investor global.

Menurutnya, ketika kondisi global kembali kondusif dan ketidakpastian mereda, aliran modal asing berpotensi kembali masuk ke Indonesia.

>>> Marc Marquez Kuasai Sprint Race MotoGP Hongaria 2026 di Balaton Park

Selain SRBI, ia juga menilai imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) masih kompetitif.

Menurutnya, selama yield SUN tenor 10 tahun berada sekitar 200 basis poin di atas imbal hasil US Treasury tenor yang sama, instrumen tersebut tetap menarik bagi investor asing.

"Sebenarnya kalau yield kita itu yang 10 tahun di atas 200 bps misalkan di 6,5% itu juga sudah menarik, karena kita lihat sekarang untuk di pasar SUN, investor asing juga relatif betah," imbuhnya.

Meski demikian, ia mengingatkan BI agar tetap berhati-hati dalam menaikkan imbal hasil SRBI.

Kenaikan yang terlalu tinggi berisiko memicu efek crowding out dan mengganggu likuiditas di sektor keuangan.

Myrdal juga menekankan pentingnya menjaga pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri.

Menurutnya, sumber likuiditas valas tidak hanya berasal dari pasar keuangan, tetapi juga dari hasil ekspor, investasi langsung asing (FDI), serta dana investor yang tetap ditempatkan dalam sistem keuangan Indonesia.

"Jangan sampai ya kejadian seperti pada kuartal-I lalu nih, kalau kita lihat di post other investment kan kelihatan tuh terjadi perpindahan dana dari pasar atau dari sistem keuangan kita ke luar negeri," katanya.