Target ke depan komposisi berubah menjadi 70% landed house, 20% campuran student residence dan retirement house, serta 10% apartemen dan service apartment.

Manajemen menilai pasar apartemen memiliki keterbatasan dan belanja modal tinggi, sedangkan rumah tapak memiliki basis pasar lebih luas dan investasi lebih efisien.

PPRO menerapkan skema kerja sama operasi (KSO) dengan investor atau pemilik lahan untuk mengembangkan proyek baru tanpa membebani modal perusahaan.

Transformasi dibagi dalam empat fase: penyehatan (2025), pemulihan (2026–2027), transformasi awal (2028–2030), dan transformasi akhir (2031–2034).

Pada fase penyehatan, fokus pada pembentukan tim pengendali keuangan, percepatan penjualan ready stock dan lahan, pemulihan citra merek, serta restrukturisasi organisasi.

Fase pemulihan menargetkan perbaikan prosedur operasional, digitalisasi SDM, optimalisasi lahan eksisting, konversi aset menjadi service apartment, dan penguatan merek dagang.

Fase transformasi awal membidik peluncuran proyek baru lewat KSO, daur ulang aset lama, dan penguatan unit building management sebagai pusat laba baru.

Fase transformasi akhir menargetkan kesuksesan lima proyek berjalan, peluncuran Prime Permata Puri, sistem manajemen hunian mahasiswa, pengembangan retirement house, dan perluasan basis data konsumen.

>>> Cara dan Syarat Balik Nama Kendaraan Bermotor, Lengkap untuk Antar Wilayah

Setelah seluruh fase terlampaui, PPRO memasuki New PPRO Era dengan target kinerja yang telah ditetapkan.