PT Bukalapak. com Tbk telah menghentikan layanan marketplace produk fisik pada awal 2025.

Langkah ini diambil untuk menghentikan kerugian finansial yang besar.

>>> Huawei MatePad Pro Max Resmi di Indonesia, Tablet Tertipis dengan AI PC Level

Perusahaan kini mengalihkan fokus bisnis ke teknologi gaming, investasi digital, dan ekosistem UMKM. Transformasi ini mulai menunjukkan hasil dengan gaming menjadi mesin pertumbuhan utama.

Director Bukalapak, Victor Putra Lesmana, mengungkapkan bahwa persepsi publik masih mengidentikkan Bukalapak dengan marketplace. Padahal, perusahaan telah berevolusi menjadi perusahaan teknologi dengan portofolio yang lebih luas.

"Awalnya kita adalah marketplace. Sampai IPO pada 2021, Bukalapak identik dengan e-commerce.

Namun seiring waktu, kami banyak melakukan inovasi dan membangun bisnis baru, mulai dari Mitra Bukalapak, gaming, investment, hingga retail," ujar Victor dalam media gathering di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Keputusan menghentikan marketplace produk fisik sempat memicu spekulasi bahwa perusahaan akan tutup. Namun, Victor menegaskan keputusan itu berdasarkan analisis data bisnis.

"Marketplace produk fisik kontribusinya kurang dari 3 persen terhadap total pendapatan.

Secara bisnis dampaknya tidak besar, tetapi terhadap profitabilitas sangat membantu karena itu adalah bisnis dengan kerugian terbesar," jelasnya.

>>> Apple Naikkan Harga Langganan iCloud Plus di Indonesia Mulai Juli 2026

Ia menilai model kompetisi e-commerce di Indonesia masih bergantung pada promosi dan subsidi harga. Hal itu sulit menghasilkan profit berkelanjutan.

"Kalau mau bersaing dengan terus bakar uang sebenarnya bisa saja. Tapi kami melihat perilaku konsumen Indonesia masih sangat tergantung pada diskon.

Begitu promosi berhenti, konsumen akan pindah ke platform yang lebih murah. Kami memutuskan lebih baik bertransformasi ketika perusahaan masih memiliki sumber daya," bebernya.

Gaming Dominasi Pendapatan

Sejak 2025, Bukalapak melaporkan kinerja dalam empat segmen utama: Gaming, Mitra Bukalapak, Retail, dan Investment. Di antara semua lini, teknologi gaming berkembang paling cepat.

Victor mengungkapkan kontribusi bisnis gaming kini mencapai hampir 90 persen dari total pendapatan. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sekitar 80 persen pada awal transformasi.

"Gaming sekarang bisa dibilang sudah sekitar 90 persen dari total pendapatan Bukalapak. Dari sisi profitabilitas juga terus meningkat," ujarnya.

>>> 9 Jam Tangan Pintar Anti Air Murah untuk Aktivitas Outdoor, Mulai Rp200 Ribuan

Bukalapak juga memperluas platform gaming digitalnya ke Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Serikat melalui brand internasional Joytify. Ekspansi ini menandai langkah perusahaan menuju pasar global.