PT PP Properti Tbk (PPRO) menyiapkan transformasi bisnis jangka panjang yang akan berlangsung hingga tahun 2034.

Langkah ini bertujuan mengubah struktur bisnis perseroan yang selama ini didominasi proyek apartemen.

>>> Profil Rosa Rai Djalal Istri Dino Patti Djalal Mantan Wamen yang Tengah jadi Perbincangan, Lengkap: Umur, Agama dan IG

Direktur Utama PPRO Dyah Rahadyannie menyatakan transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat fundamental bisnis.

Selain itu, langkah ini bertujuan menciptakan model usaha yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Dalam paparan RUPST yang dikutip Minggu (7/6/2026), Dyah mengatakan berbagai langkah strategis termasuk optimalisasi portofolio melalui divestasi aset untuk memperkuat arus kas.

Agenda transformasi juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola perusahaan dan kualitas pelaporan keuangan.

Kinerja Keuangan dan Target Baru

Hingga Maret 2026, total aset konsolidasian PPRO tercatat Rp10,58 triliun, turun 41,13% dibandingkan posisi Maret 2025 yang mencapai Rp17,98 triliun.

Liabilitas menyusut 24,80% menjadi Rp4,52 triliun dari sebelumnya Rp6,01 triliun.

Ekuitas perusahaan terkoreksi 49,33% menjadi Rp6,06 triliun dibanding Rp11,97 triliun pada kuartal yang sama tahun lalu.

Pendapatan kuartal I/2026 mencapai Rp79 miliar, tumbuh 21,54% dari Rp65 miliar pada kuartal I/2025.

EBITDA masih negatif Rp81 miliar, namun membaik dibanding kerugian EBITDA kuartal I/2024 yang mencapai Rp209 miliar.

PPRO menargetkan setelah 2034 memasuki fase New PPRO Era dengan meluncurkan satu proyek baru setiap dua tahun, menjual lebih dari 1.000 unit properti per tahun, serta pendapatan dan penerimaan kas di atas Rp1 triliun per tahun.

>>> SEGA Hadirkan Tupac Shakur di Game Stranger Than Heaven

Perubahan Portofolio dan Fase Transformasi

Saat ini portofolio PPRO didominasi apartemen 70%, student residence 20%, dan landed house 10%.