Situasi pelik ini memaksa produsen dalam negeri mengorbankan margin demi mempertahankan pasar. Sejumlah pabrik bahkan mulai menyesuaikan tingkat utilisasi untuk menghindari tekanan yang lebih besar.

"Bahkan kita sekarang sudah mencoba dengan 75% utilisasi, kita mencoba sedikit di bawah harga China. Jadi kita menggerus margin lumayan cukup besar," kata dia.

Tekanan nilai tukar rupiah membuat kondisi industri semakin rumit. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku otomatis meningkat.

>>> Kemenkeu Salurkan Transfer ke Daerah Rp306,1 Triliun hingga Mei 2026

Kenaikan biaya tersebut tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke harga jual. Hal ini terjadi karena pasar domestik sudah dibanjiri produk impor murah.

"Jadi ada dua hal ya. Dari sisi pelaku industri hulu memang kita pass through aja.

Tetapi, dengan banjirnya barang impor, kita tidak bisa pass through, karena mau tidak mau harus turunkan harga," ujar dia.

Dampak negatif ini juga dirasakan oleh pelaku industri hilir atau converter yang mengimpor bahan baku saat harga masih tinggi.

Ketika barang tiba di Indonesia, harga pasar justru mengalami koreksi tajam sehingga margin usaha ikut tertekan.

Kekhawatiran kini mulai bergeser dari penurunan margin menuju ancaman perlambatan produksi. Jika tekanan biaya terus berlanjut, pengurangan jam kerja hingga perumahan karyawan menjadi opsi yang mulai diperhitungkan perusahaan.

Tekanan dari Tiga Sisi

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai industri petrokimia saat ini menghadapi tiga tekanan besar secara bersamaan.

Tekanan tersebut adalah lonjakan harga bahan baku global, pelemahan rupiah, dan persoalan pasokan gas industri.

Menurut Yusuf, konflik di Timur Tengah telah mendorong harga nafta melonjak lebih dari 50% dibandingkan sebelum ketegangan memanas.