Industri petrokimia dan plastik nasional tengah menghadapi tekanan berlapis sepanjang tahun ini.

Sektor manufaktur ini didera pelemahan rupiah, lonjakan harga bahan baku, banjir produk impor asal China, serta kenaikan harga gas industri.

>>> Kemensos Salurkan Bansos PKH dan BPNT Juni 2026 Lewat Rekening KKS

Kondisi berat tersebut terjadi ketika pelaku usaha di dalam negeri berupaya menjaga tingkat produksi. Industri juga berjuang mempertahankan pasar domestik dari gempuran barang impor yang terus meningkat.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan bahwa gas merupakan komponen penting dalam proses cracker dan polimerisasi.

Menurutnya, industri relatif mampu menjaga daya saing selama skema harga gas bumi tertentu (HGBT) berjalan di kisaran US$6-7 per MMBTU.

"HGBT sebenarnya sangat membantu kami, karena bisa bersaing dengan impor, di mana utilisasi sedikit terbantu dengan harga gas yang murah US$6-7.

Tetapi, sekarang penawarannya sudah di atas rata-rata, US$15-20 per mmbtu," kata Fajar, Jumat (5/6/2026).

Kenaikan biaya energi ini muncul di tengah persaingan regional yang semakin ketat.

Di beberapa negara ASEAN, harga gas industri masih berada di bawah US$9 per mmbtu, sementara produsen China menikmati dukungan energi murah serta ketersediaan bahan baku yang besar.

Arus impor produk plastik dan petrokimia dari luar negeri kini semakin membebani pasar domestik. Produk dari China masuk dengan harga murah yang sulit ditandingi oleh produsen lokal.

"China yang sekarang ini sangat masif masuk barangnya ke mana-mana.

Ke Indonesia pun juga sekarang sudah kita perkirakan barang dari China itu bisa sampai 300 ribu ton per tahun," ujar Fajar.