>>> Vivian Wilson Akui Tak Tahu Jumlah Saudara Kandungnya

"Jadi, keberhasilan kinerja kami tidak hanya dilihat dari jumlah toko sendiri, melainkan juga kemampuan dalam menjangkau pasar melalui jaringan partner," imbuh Sandra.

Melalui perluasan jaringan ini, HRTA memproyeksikan pendapatan total mampu menyentuh Rp 70 triliun pada tahun 2026 dengan estimasi perolehan laba bersih di kisaran Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun.

Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan lonjakan pendapatan sebesar 196,96% secara tahunan menjadi Rp 20,16 triliun dan laba bersih melonjak 189,48% menjadi Rp 433,49 miliar.

Sandra Sunanto menegaskan optimisme pencapaian target keuangan tersebut tetap tinggi di tengah fluktuasi pasar komoditas global.

"Kondisi sekarang justru lebih baik dibandingkan periode ketika harga emas bergerak liar seperti roller coaster," tutur Sandra.

Guna mengantisipasi kenaikan permintaan, kapasitas pabrik terintegrasi ditingkatkan dari 48 ton menjadi 60 ton per tahun, terbagi rata untuk manufaktur perhiasan dan pemurnian emas.

HRTA yang memegang pangsa pasar domestik sebesar 29,14% per kuartal I-2026 saat ini juga tengah mengupayakan sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA).

Direktur Keuangan Hartadinata Abadi, Ong Deny, menyebutkan bahwa proses sertifikasi internasional untuk produk Emasku diharapkan selesai sebelum penutupan tahun ini.

>>> Thom Haye Jadi Pemain Termahal Super League 2025-2026

"Sertifikasi dari LBMA berpotensi meningkatkan margin dari produk kami sekitar 1%--2%," pungkas Ong Deny.