Pada 25 Mei 2026, Paus Leo XIV merilis dokumen 'Magnifica Humanitas' yang menyoroti persimpangan peradaban di era Kecerdasan Buatan (AI).

Dokumen ini mempertanyakan apakah AI akan digunakan untuk membangun 'Menara Babel' atau 'Yerusalem'.

>>> Enrique Riquelme Janji Datangkan Juergen Klopp ke Real Madrid

Peringatan itu sangat relevan bagi pendidikan Indonesia.

Di tengah transformasi digital dan Kurikulum Merdeka, muncul pertanyaan eksistensial: apakah teknologi membebaskan atau justru menciptakan perbudakan baru?

Ilusi Optimasi dan Tereduksinya Peran Guru

Dalam filsafat klasik, manusia memiliki 'nous'—mata batin yang menghubungkan pengetahuan dengan kebijaksanaan. AI tidak memiliki nous; ia tidak bisa merasakan kebingungan siswa atau memahami trauma psikologis.

Namun, tren pendidikan sering terjebak pada ilusi optimasi. Keberhasilan diukur dari kerapian data di aplikasi, kecepatan modul digital, dan efisiensi birokrasi.

Guru dituntut menjadi pendidik karakter humanis, tetapi sistem memaksa mereka menghabiskan waktu di depan layar untuk administrasi. Guru direduksi menjadi 'operator data' bagi mesin birokrasi.

Inilah bahaya dominasi teknokratis yang disebut dalam 'Magnifica Humanitas': ketika efisiensi mengalahkan empati.

Pendidikan sebagai Ruang Agape, Bukan Sekadar Transfer Data

Jika pendidikan hanya transfer informasi, profesi guru sudah tamat. AI bisa menjelaskan fisika kuantum atau sejarah lebih komprehensif.

Tetapi pendidikan sejati adalah proses Agape—tindakan kasih yang memanusiakan. Guru yang menepuk bahu siswa gagal dan berkata, 'Mari coba lagi besok.'

AI tidak mengenal belas kasihan.

AI tidak bisa mengajarkan ketangguhan, karena ketangguhan lahir dari pengalaman kelemahan dan kegagalan manusia.

>>> Telkomsel Siapkan Paket Bundling IndiHome dengan Panel Surya

'Magnifica Humanitas' mengingatkan bahwa kelemahan bukan cacat yang harus dihapus teknologi, melainkan ruang saling peduli.