Ketika ruang kelas didominasi layar dan algoritma, kita mencabut 'ruh' pendidikan. Generasi yang cerdas kognitif tetapi terisolasi sosial dan tumpul moral adalah hasilnya.

Lalu, apakah kita harus anti-teknologi? Tentu tidak.

Teknologi adalah alat, bukan tujuan. AI harus menjadi pelayan kemanusiaan.

Pertama, Kementerian Pendidikan harus menggunakan AI untuk membebaskan guru dari tugas administratif, sehingga guru punya waktu untuk mendengarkan, membimbing karakter, dan menjadi teladan moral.

Kedua, kurikulum harus bergeser dari mengejar ketuntasan materi menuju penguatan kebijaksanaan. Siswa diajari mengajukan pertanyaan etis, membedakan kebenaran dari manipulasi, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama.

Kita berada di titik kritis.

Jangan sampai ambisi mengejar digital membuat kita membangun 'Menara Babel' di ruang kelas: sistem megah tetapi dingin dan kehilangan sentuhan manusia.

Pendidikan Indonesia harus tetap menjadi 'Yerusalem', ruang perjumpaan hangat di mana teknologi tunduk pada martabat manusia, dan keadilan bagi pendidik menjadi fondasi utama.

>>> Kulit Payudara Seperti Jeruk Bisa Jadi Tanda Kanker, Waspadai Gejalanya

Masa depan bangsa tidak dibentuk oleh kecanggihan algoritma, melainkan oleh kasih dan kebijaksanaan yang ditanamkan guru di hati murid.