Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan industri perbankan Indonesia tetap kokoh dan terhindar dari isu penarikan uang massal atau bank rush di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (5/6/2026).

Data Bloomberg menunjukkan dolar AS dibuka menguat ke posisi Rp18.049 pada pukul 09.01 WIB.

>>> Katak Badut Jadi Alat Uji Kehamilan Populer Era 1950

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa stabilitas politik dan ekonomi saat ini sangat menopang ketahanan perbankan nasional.

"Kami memandang saat ini tidak terdapat potensi bank rush karena situasi politik keamanan dan ekonomi Indonesia masih kondusif," ujar Dian Ediana Rae.

OJK meminta seluruh manajemen bank untuk terus aktif menerapkan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian guna menjaga kepercayaan publik.

Berdasarkan data per April 2026, rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan berada di level 1,63% dengan posisi long, jauh di bawah batas maksimum sebesar 20%.

"Ini menunjukkan bahwa eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar itu relatif terjaga dan terkendali.

Dengan demikian dampak immidiate dari pelemahan Rupiah terhadap stabilitas perbankan itu relatif masih terbatas," jelas Dian Ediana Rae.

Meski dampak langsungnya terbatas, pelemahan mata uang ini berpotensi meningkatkan harga barang impor yang bisa menekan daya beli masyarakat serta menambah beban fiskal pada sektor subsidi.

Namun, situasi ini juga menjadi peluang bagi sektor ekspor dan pariwisata karena produk lokal menjadi lebih kompetitif bagi pasar internasional.

"Oleh karena itu kami senantiasa melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terkait pergerakan nilai tukar dan dampak yang terhadap perbankan," tambah Dian Ediana Rae.