Sentimen yang Perlu Dicermati

Dalam dua pekan ke depan, review dan rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell perlu dicermati.

Perubahan bobot Indonesia maupun keluar-masuknya saham tertentu berpotensi memicu arus dana pasif dan meningkatkan volatilitas jangka pendek.

Investor juga perlu memantau perkembangan tarif AS yang dikabarkan akan menambah tarif sebesar 10%.

Selain itu, arah kebijakan The Fed, dinamika geopolitik Timur Tengah, pergerakan rupiah, serta arus dana asing yang sudah outflow sekitar Rp 60 triliun sepanjang 2026 juga menjadi perhatian.

Pasar mulai memberikan perhatian lebih terhadap sovereign rating Indonesia setelah Moody's memberikan negative outlook pada Danantara Investment Management.

Pemerintah baru saja melobi S&P untuk menjelaskan kondisi fiskal nasional.

"Sejauh ini belum ada indikasi downgrade, namun isu sovereign risk berpotensi mempengaruhi sentimen investor asing dan pergerakan aset keuangan domestik," tambah Liza.

Selama tekanan terhadap rupiah dan foreign outflow belum mereda, volatilitas pasar Indonesia kemungkinan masih tinggi.

>>> Kinerja Emiten Investasi Beda Arah di Tengah Lesunya Pasar Saham

Meskipun valuasi saham saat ini sudah jauh lebih murah, bahkan dibandingkan price to earning era covid, IHSG sudah lebih rendah dari titik terendah tahun lalu dan menciptakan low terbaru dalam 5 tahun terakhir.