Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengimbau para investor untuk lebih cermat dalam menyusun strategi alokasi aset.

Langkah penyesuaian komposisi portofolio ini diperlukan agar sesuai dengan tujuan investasi, horizon waktu, dan toleransi risiko masing-masing individu.

>>> Ayovest dan Easylink Jalin Kerja Sama Perluas Gerai Reksa Dana Digital

Bagi investor bertipe konservatif, fokus utama terletak pada perlindungan nilai modal sekaligus menjaga likuiditas.

Yusuf memperkirakan alokasi idealnya adalah membagi 40% portofolio ke reksa dana pasar uang dan 30% ke obligasi negara tenor pendek, sedangkan sisanya sebesar masing-masing 15% ditempatkan pada emas dan saham defensif.

"Bagi investor konservatif, fokus utamanya adalah menjaga nilai modal dan likuiditas.

Karena itu, mayoritas portofolio dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang dan obligasi negara tenor pendek, dengan porsi terbatas pada emas dan saham defensif," ujar Yusuf.

Fungsi emas dinilai menjadi instrumen lindung nilai terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global.

Sementara itu, saham defensif pada sektor konsumsi dan utilitas dipilih karena memiliki arus kas yang dinilai lebih stabil dibandingkan sektor siklikal.

Rekomendasi untuk Investor Moderat dan Agresif

Untuk jenis investor dengan profil risiko moderat, Yusuf menyarankan adanya keseimbangan instrumen.

Alokasi yang dianggap relevan dalam kondisi pasar saat ini adalah menempatkan sekitar 55% dana pada reksa dana pendapatan tetap dan 45% pada instrumen saham, dengan akumulasi yang dilakukan secara bertahap akibat sentimen pasar yang belum mereda.

"Jika ingin mempertahankan cadangan likuiditas, komposisinya dapat disesuaikan menjadi sekitar 50% pendapatan tetap, 40% saham, dan 10% pada instrumen cadangan seperti kas atau emas," kata Yusuf.