Bagi pelaku pasar dengan profil agresif, situasi koreksi pasar dinilai menjadi peluang untuk masuk karena valuasi saham saat ini sudah jauh lebih murah daripada beberapa tahun terakhir.

>>> Gus Fawait: Fungsi Utama Bandara Jember Bukan Kemegahan, Tapi Konektivitas

Skenario yang disarankan adalah menaruh 60% portofolio pada saham, 20% pada pendapatan tetap, serta masing-masing 10% pada emas dan instrumen likuid.

"Cadangan likuiditas ini penting sebagai amunisi untuk memanfaatkan peluang apabila pasar kembali mengalami koreksi," ujar Yusuf.

Secara umum, seluruh profil risiko disarankan menerapkan strategi masuk pasar secara bertingkat.

Kondisi perekonomian saat ini dinilai belum sepenuhnya kondusif karena adanya tekanan dari ketidakpastian kebijakan serta persepsi pasar yang belum pulih secara total.

"Ketika ditanya apakah saat ini lebih baik mengakumulasi aset atau menjaga likuiditas, jawabannya adalah keduanya harus berjalan bersamaan.

Valuasi pasar memang sudah jauh lebih menarik setelah koreksi yang cukup dalam sehingga mulai terlihat sebagai periode akumulasi.

Namun proses masuk ke pasar sebaiknya tetap dilakukan secara bertahap," kata Yusuf.

Investor juga diimbau mempertahankan dana kas agar tetap fleksibel saat volatilitas meningkat atau ketika kesempatan membeli aset di harga rendah muncul.

Terdapat lima indikator utama yang perlu dicermati ke depan, yaitu keputusan lembaga pemeringkat internasional pasca-langkah Moody's, serta arah aliran dana asing di pasar saham dan obligasi.

Indikator berikutnya mencakup pergerakan yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun yang mencerminkan premi risiko Indonesia, perkembangan indeks dolar AS, harga minyak dunia, hingga konsistensi kebijakan fiskal pemerintah.

>>> AAJI: Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 1,5% pada Kuartal I-2026

"Stabilitas rupiah dalam jangka panjang pada akhirnya sangat bergantung pada keyakinan pasar terhadap pengelolaan fiskal yang kredibel," kata Yusuf.