Kinerja emiten investasi di Indonesia menunjukkan arah yang berbeda di tengah lesunya pasar saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 5.594,76, turun 35,3% sejak awal tahun.

>>> Syngenta Indonesia Luncurkan Fungisida Miravis Duo di Cilacap

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) mencatat rugi atas investasi neto sebesar Rp 1,13 triliun per kuartal I-2026.

PT Astra International Tbk (ASII) juga mencatat arus keluar Rp 485 miliar pada pos perubahan nilai wajar investasi lain-lain.

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat kerugian yang belum direalisasikan dari perubahan nilai wajar atas investasi sebesar Rp 309 miliar per Maret 2026.

Sementara itu, PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) justru mencatat keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya sebesar Rp 2,43 triliun.

PALM memiliki saham di PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan nilai wajar masing-masing Rp 5,84 triliun dan Rp 4,19 triliun.

Strategi Saratoga dan Prospek Emiten

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mengaku konsisten menjalankan strategi investasi jangka panjang.

Sepanjang 2025, SRTG mencatat keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,13 triliun.

Investor Relations Saratoga, Mellisa Holidi, mengatakan fokus perseroan adalah optimalisasi nilai portofolio, peningkatan efisiensi operasional, dan penguatan fundamental bisnis.

SRTG mencari peluang di sektor layanan kesehatan, energi terbarukan, infrastruktur digital, dan konsumen.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai fase downtrend IHSG sudah mulai terbatas karena sudah undervalue.

>>> ZUS Coffee Ekspansi ke Indonesia, Gandeng Kapal Api Group