Pelaku usaha hilirisasi nikel Indonesia mulai melakukan diversifikasi impor untuk mengatasi pengetatan pasokan sulfur global akibat konflik di Timur Tengah.

Langkah ini diambil karena kawasan Timur Tengah sebelumnya menyumbang sekitar 75 hingga 80 persen dari total kebutuhan impor belerang nasional sebesar 5,3 juta ton hingga tahun 2025.

>>> Andoni Iraola Resmi Jadi Manajer Baru Liverpool Gantikan Arne Slot

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah menyebutkan beberapa negara alternatif, yaitu Kanada, Amerika, dan Korea.

Sulfur merupakan bahan baku utama dalam produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) untuk komponen baterai. Pembuatan 1 ton MHP memerlukan sekitar 11,7 ton sulfur.

Selain mengganti negara asal, sejumlah pelaku industri juga menjajaki opsi mendatangkan sulfur dalam wujud sulfat cair.

>>> OJK Pastikan Revisi Aturan Rencana Bisnis Bank Tak Intervensi Kredit

Namun, bentuk cair lebih sulit dalam logistik pengangkutan dibandingkan bubuk atau bongkahan padat.

Rekomendasi Sumber Baru

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) telah merekomendasikan beberapa sumber pasokan baru secara resmi. Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menyebut Australia dan Bulgaria sebagai opsi.

Meskipun Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali, pemulihan pasokan diperkirakan memakan waktu sekitar tiga bulan. Artinya, pasokan baru baru bisa didapat tahun depan.

>>> Belanja Negara Tembus Rp1.059,3 Triliun per Mei 2026

APNI menilai Australia menjadi opsi jangka pendek yang paling rasional dari segi jarak dan efisiensi logistik. Indonesia bisa menjembatani investasi langsung pada perusahaan sulfur di Australia.