Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil langkah taktis untuk mengebut produksi minyak dan gas (migas) di dalam negeri.

Upaya ini dilakukan sebagai strategi menekan imbas pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap sektor energi nasional.

>>> OJK Catat Premi Asuransi Jiwa Tumbuh Jadi Rp 62,58 Triliun per April 2026

Ketergantungan terhadap impor minyak yang masih tinggi dibanding produksi domestik menjadi pemicu utama. Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS membuat biaya impor pasokan minyak membengkak.

Fokus pada Teknologi Non-Konvensional

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa pemerintah terus mengupayakan peningkatan volume produksi migas domestik.

Langkah tersebut ditempuh melalui pemanfaatan teknologi pengeboran migas non-konvensional di sejumlah wilayah kerja potensial.

Penentuan lokasi fokus pengeboran didasarkan pada hasil survei geologi yang menunjukkan adanya cadangan dalam skala besar.

"Jadi kalau ini tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi impor dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang," ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).

Salah satu kawasan yang memiliki prospek cerah adalah Wilayah Kerja Migas Rokan. Saat ini, Pertamina Hulu Rokan sedang menjalankan studi awal untuk mematangkan rencana pengembangan tersebut.

>>> Penerimaan Pajak hingga Mei 2026 Capai Rp834,4 Triliun, Tumbuh 22,1%

Tawaran kerja sama terkait penerapan teknologi mutakhir sudah mulai berdatangan dari sejumlah pihak. Namun, implementasi di lapangan masih tertahan karena harus menunggu rampungnya regulasi resmi dari Kementerian ESDM.

"Jadi kita juga sudah ada yang menawarkan beberapa teknologi unconventional, dan kita sudah pertemukan dengan SKK Migas.

SKK Migas itu minta kalau bisa akhir Juni ini, sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli.

Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu," ujar Yuliot.

Yuliot mencontohkan keberhasilan Amerika Serikat yang mampu mendongkrak volume produksi migas melalui potensi non-konvensional.

>>> KPK Geledah Rumah Wakil Menteri Imigrasi Silmy Karim

"Pada saat terjadi peningkatan di beberapa wilayah kerja, justru Amerika sendiri surplus untuk produksi migasnya sendiri. Sehingga Amerika melakukan kegiatan ekspor itu tahun 2012," pungkasnya.