Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan nasional pada April 2026 mencapai Rp8.755 triliun. Angka ini tumbuh 9,98 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan catatan Maret 2025 yang sebesar 9,49 persen yoy.

>>> Yayasan Puteri Indonesia Dukung PP TUNAS untuk Lindungi Anak di Internet

Namun, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross tercatat naik menjadi 2,17 persen, sementara NPL net naik tipis ke 0,84 persen.

Kredit Investasi Jadi Penopang Utama

Kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 19,48 persen yoy. Meski demikian, lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 20,85 persen.

Kredit modal kerja tumbuh 6,04 persen yoy, sedangkan kredit konsumsi naik 6,13 persen yoy.

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mencatat pertumbuhan positif meski tipis, yaitu 0,16 persen yoy.

>>> OJK Jatuhkan Sanksi Rp875 Juta ke Indosaku, Panggil Pemegang Saham KoinP2P

Dari sisi kepemilikan bank, kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14,35 persen yoy.

Hal ini disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam Rapat Dewan Komisioner bulanan, Jumat (5/6/2026).

Meskipun rasio kredit bermasalah meningkat, tingkat likuiditas perbankan tetap terjaga. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit dan dana pihak ketiga memang mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada April 2026 tumbuh 11,4 persen yoy menjadi Rp10.077 triliun. Pertumbuhan ini melambat dari bulan sebelumnya yang mencapai 13,55 persen.

>>> China Investasi 1,1 Miliar Yuan untuk Kembangkan Agen AI Sebarkan Ideologi Xi Jinping

OJK menargetkan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun berada di kisaran 10 hingga 12 persen. Sementara itu, target pertumbuhan DPK dipatok pada level 7 hingga 9 persen.