PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) memutuskan untuk tetap melanjutkan investasi teknologi kecerdasan buatan (AI) pada kuartal III/2026.

Keputusan ini diambil di tengah fluktuasi makroekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong kenaikan biaya perangkat teknologi.

>>> Nonton Drakor Teach You a Lesson Tayang 10 Episode Sekaligus di Netflix, Simak Sinopsis dan Jadwal Nontonnya

Kedua bank mengkaji ulang prioritas anggaran teknologi informasi (TI), namun sepakat mempertahankan ekspansi AI secara terukur untuk efisiensi jangka panjang.

EVP Enterprise IT & Data Management BCA, Lily Wongso, mengatakan kenaikan harga akibat tekanan kurs membuat perseroan lebih hati-hati dalam belanja modal TI.

BCA kini memperketat kurasi terhadap use case AI yang akan dibangun agar sesuai dengan strategi bisnis utama dan memberikan dampak besar.

"Jadi mana use case-use case memang yang sesuai dengan strategi dan memang akan menghasilkan impact yang lebih besar, benefit yang lebih besar.

Nah, itu yang kami targetkan," ujar Lily, Jumat (5/6/2026).

Lily menambahkan BCA tidak berencana menghentikan pengembangan AI karena potensi efisiensinya sangat besar.

Implementasi AI di BCA mampu menghasilkan efisiensi proses minimal 30%, bahkan pada fungsi tertentu mencapai 70-80%.

SVP AI & Data Analytics Division BNI, Handika Hakim, menyatakan fluktuasi ekonomi global akibat ketegangan geopolitik memengaruhi harga solusi TI.

BNI menerapkan strategi reprioritasi dan re-strategize untuk membedakan diri di pasar.

>>> Main Tebak Gambar Nama Hewan untuk Uji Ketajaman Berpikir

"Use case-nya mungkin kita harus memilah-milah, mana yang kira-kira high value, kemudian secara time itu juga lebih sedikit," papar Handika.