>>> Chen Yu Fei Hentikan Langkah Putri Kusuma Wardani di Perempat Final Indonesia Open 2026

Tanggapan BTN dan Dampak pada Kualitas Aset

Sekretaris Perusahaan BTN, Ramon Armando menyatakan bank pelat merah tersebut mengambil langkah proaktif untuk mendukung penegakan hukum pada kasus yang melibatkan pengembang perumahan Citra Swarna Grande dan Kartika Residence.

"Semua saksi dari pihak BTN yang diperiksa kooperatif membantu memberikan keterangan," jelas Ramon dalam keterangannya, Sabtu (24/5/2026).

Permasalahan ini berdampak pada kualitas aset BTN per Maret 2026.

Rasio non-performing loan (NPL) KPR komersial melonjak ke level tidak sehat sebesar 5,2% atau setara Rp5,8 triliun, naik dari 4,9% pada Maret 2025.

Secara keseluruhan, outstanding KPR BTN mencapai Rp306,11 triliun dengan total kredit bermasalah sebesar Rp8,51 triliun (rasio 2,78%).

BTN menyumbang 31,5% dari total NPL KPR industri perbankan nasional yang mencapai Rp26,95 triliun.

Pandangan Ekonom: Sektor KPR Rawan Fraud

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet berpendapat bahwa sektor KPR memiliki celah fraud yang relatif besar karena dominasi pengembang dalam proses pengajuan kredit yang tidak diawasi langsung oleh regulator.

"Pola seperti itu menciptakan ketimpangan informasi dan membuka ruang fraud yang cukup besar bila pengawasan internal bank tidak berjalan optimal," ujar Yusuf, Senin (25/5/2026).

Yusuf menilai kredit bermasalah akibat fraud memiliki tingkat pemulihan yang rendah karena agunan sering kali bermasalah atau dokumen tidak valid.

"Hal ini terjadi lantaran agunan sering kali bermasalah, dokumen tidak valid, atau objek rumah sulit dieksekusi.

>>> Makna Spiritual dan Praktik Ayat Summum Bukmun Umyun dalam Kehidupan

Akibatnya, bank harus membentuk pencadangan yang lebih besar yang pada akhirnya menekan profitabilitas," tambah Yusuf.