Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap menghadapi situasi menegangkan seperti masalah pekerjaan atau rasa takut dan tidak percaya diri.

Sebagian umat Islam membaca penggalan ayat Al-Qur'an, yaitu summum bukmun 'umyun fahum la yarji'un, sebagai bentuk ikhtiar batin.

>>> Cara Mudah Sedekah Subuh dari Rumah, Tak Perlu ke Masjid

Lafaz tersebut merupakan bagian dari Surat Al-Baqarah ayat 18. Secara tekstual, ayat ini bukan doa, melainkan gambaran kondisi orang yang menutup diri dari kebenaran.

Artinya: “Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”

Tafsir Ayat Summum Bukmun Umyun

Menurut Tafsir Al-Qur'an Kementerian Agama RI, frasa tersebut menjelaskan keadaan manusia yang menutup diri dari kebenaran.

Mereka tidak mau mendengar nasihat, enggan bertanya, dan tidak mengoptimalkan akal untuk melihat petunjuk Allah.

Tafsir Ibnu Katsir menyebut istilah tuli, bisu, dan buta merujuk pada kondisi spiritual, bukan fisik.

Tuli berarti enggan menerima nasihat, bisu bermakna tidak mau mencari kebenaran, dan buta menandakan kegagalan hati dalam memahami petunjuk.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyebut fenomena ini sebagai penutupan kesadaran. Ego dan penolakan yang kuat membuat manusia sulit kembali ke jalan yang benar.

>>> Kemendikdasmen Umumkan Rata-rata Nilai TKA SD dan SMP 2026

Praktik dan Fungsi Spiritual

Di masyarakat, penggalan ayat ini bergeser menjadi bacaan yang diamalkan sebagai doa penenang diri saat menghadapi tekanan.

Lafaz ini biasanya diulang beberapa kali sebelum menghadapi situasi berat seperti konflik atau pertemuan yang memicu kecemasan.

Imam Al-Ghazali dalam buku Adab Berdoa dalam Islam mengingatkan bahwa kekuatan utama seorang muslim terletak pada ketergantungan penuh kepada Allah, bukan sekadar pada lafaz tertentu.

Ulama menekankan niat utama amalan ini adalah menstabilkan emosi diri sendiri, bukan untuk menguasai orang lain.

Hisyam Al-Talib dalam Spiritual Intelligence menyebutkan bahwa pengulangan ayat atau dzikir dapat membantu menata emosi dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Amalan ini sebaiknya diposisikan sebagai sarana introspeksi agar manusia tidak terjebak dalam sikap keras hati.

Malik Badri melalui buku Psikologi Qur'ani menambahkan bahwa ayat Al-Qur'an dapat berfungsi sebagai terapi psikologis yang mengalihkan fokus dari kecemasan menuju kedamaian spiritual.

>>> Sikapi FOMO Anak terhadap Idola, Orangtua Jangan Langsung Melarang

Kekuatan sejati dari ikhtiar batin ini bersumber pada konsep tawakal kepada Allah.