Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menandatangani kontrak tahap I program listrik desa (lisdes) untuk 1.520 lokasi dengan nilai Rp4 triliun pada Juni 2026.

Penandatanganan ini merupakan bagian dari realisasi total anggaran program listrik desa tahun 2026 yang mencapai Rp10,3 triliun.

>>> Sering Dianggap Menyebalkan, 2 Kebiasaan Ini Tanda Orang Cerdas

Anggaran tersebut bersumber dari rupiah murni senilai Rp994 miliar dan anggaran belanja tambahan (ABT) sebesar Rp9,3 triliun.

Plt Dirjen Ketenagalistrikan Tri Winarno menyampaikan hal tersebut dalam rapat dengan Komisi XII DPR pada Kamis (4/6/2026).

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data akhir 2025, masih terdapat 10.068 lokasi yang belum teraliri listrik di Indonesia.

Sebaran lokasi tidak berlistrik terbesar berada di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara sebanyak 5.555 lokasi.

Disusul Jawa 1.630 lokasi, Kalimantan 1.099 lokasi, Sulawesi 799 lokasi, dan Sumatra 985 lokasi.

"Konsentrasi terbesar di Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara mencapai 5.555 lokasi atau lebih dari 55% dari total, mencerminkan tantangan geografis kepulauan yang berat," ujar Tri.

Target dan Rencana Jangka Menengah

Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan bersama PT PLN (Persero) tengah menyusun dokumen perencanaan untuk 2.330 lokasi lainnya.

Target penyelesaian dokumen pada akhir Juni 2026 dengan sasaran manfaat bagi 17.853 pelanggan tahun ini.

>>> Kunjungan Wisatawan Eropa ke Sumatera Utara Melonjak pada April 2026

Program listrik desa periode 2026–2027 dirancang mencakup 3.850 lokasi dengan kebutuhan anggaran Rp18,65 triliun. Pembangunan meliputi jaringan distribusi dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) komunal.

Sepanjang 2025, program listrik desa telah menjangkau 1.403 lokasi.

Realisasinya meliputi pembangunan jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 3.773 km, jaringan tegangan rendah (JTR) 3.056 km, dan gardu distribusi berkapasitas 92.300 kVA.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebutkan program listrik desa telah menjangkau 77.616 pelanggan di 1.516 lokasi per 2025.

Total alokasi dana tahun lalu sebesar Rp4,52 triliun.

Dana tersebut terbagi untuk pembangunan jaringan listrik perdesaan Rp3,85 triliun, peningkatan jam nyala 24 jam Rp0,22 triliun, dan bantuan pasang baru listrik (BPBL) gratis Rp0,45 triliun.

Hingga akhir 2029, Kementerian ESDM menargetkan penyambungan listrik sekitar 1,2 juta rumah tangga dan elektrifikasi 5.758 desa.

>>> Rupiah Dekati Rp18.000 Per Dolar AS Picu Kenaikan Harga Barang Impor

Kebutuhan investasi diperkirakan mencapai Rp50 triliun, dibiayai sepenuhnya oleh APBN dengan prioritas rumah tangga miskin di wilayah 3T.