Indonesia memiliki beragam rumah tradisional yang mencerminkan budaya dan kepercayaan setiap suku. Salah satu yang paling unik adalah rumah pohon milik Suku Korowai di Papua.

Masyarakat adat ini tinggal di hutan hujan tropis di pesisir selatan Papua. Rumah mereka berada di atas pohon dengan ketinggian 12 hingga 35 meter dari permukaan tanah.

>>> Garuda Indonesia Atur Pemulangan Jemaah Haji Imbas Kepadatan di Jeddah

Proses pembangunan dimulai dengan memilih pohon berdiameter minimal satu meter sebagai tiang utama. Bahan bangunan seluruhnya berasal dari alam sekitar.

Konstruksi rumah memakan waktu dua hingga tujuh hari. Di dalamnya terdapat sekat yang memisahkan area laki-laki di timur dan perempuan di barat.

Atap rumah menggunakan daun sagu, dinding dari pelepah sagu atau kulit kayu, dan lantai dari papan kulit kayu.

Tulang makanan diletakkan di bawah atap.

Ukuran rumah bisa mencapai 7x10 meter. Akses masuk menggunakan tangga gantung khusus.

>>> Telkom Siapkan Rp1,2 Triliun untuk Pensiun Dini Karyawan Anak Usaha

Di dalam rumah terdapat beberapa tungku masak dari tanah liat. Asapnya berfungsi mengawetkan kayu agar tidak cepat lapuk.

Rumah pohon ini umumnya bertahan dua hingga tiga tahun. Jika ada anggota keluarga meninggal, mereka akan pindah dan menguburkan jenazah di bawah rumah.

Alasan Keamanan dan Kepercayaan Adat

Pembangunan rumah di ketinggian berkaitan dengan kepercayaan terhadap makhluk bernama laleo. Suku Korowai percaya laleo adalah iblis yang berjalan seperti mayat hidup pada malam hari.

Sebelum modernisasi, istilah laleo merujuk pada segala hal dari dunia luar. Mereka sempat menolak barang asing seperti beras dan atap logam karena dianggap milik iblis.

Kini, masyarakat Korowai mulai menerima perlengkapan modern seperti korek api gas, parang logam, makanan kaleng, dan mi instan.

>>> Ketergantungan Impor Susu Tekan Biaya Produksi Industri Domestik

Selain faktor kepercayaan, rumah tinggi melindungi dari binatang buas, pemburu kepala, dan nyamuk malaria.