PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 triliun hingga Rp1,2 triliun untuk mendanai program pensiun dini atau early retirement program (ERP) pada tahun 2026.

Langkah ini menyasar para pekerja di tingkat perusahaan anak sebagai keberlanjutan dari efisiensi yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

>>> Ketergantungan Impor Susu Tekan Biaya Produksi Industri Domestik

Direktur Telkom Arthur Angelo Syailendra menuturkan bahwa pada tahun ini, TLKM menganggarkan tambahan dana ERP sebesar Rp1 triliun hingga Rp1,2 triliun.

Manajemen memproyeksikan target sasaran peserta program efisiensi tenaga kerja kali ini akan memiliki fokus area yang berbeda dari pelaksanaan tahun lalu.

"Sebagian besar peserta program tersebut kami perkirakan berasal dari karyawan di level anak usaha, bukan lagi dari level holding company seperti yang kami lakukan pada 2025," ujar Arthur Angelo Syailendra.

Realisasi kebijakan pemangkasan jumlah staf pada periode akhir tahun lalu telah menyerap anggaran yang cukup besar bagi korporasi telekomunikasi milik negara ini.

"Untuk program tersebut, kami mengeluarkan biaya sekitar Rp937 miliar, dengan sekitar 612 karyawan mengikuti program tersebut," tutur Arthur Angelo Syailendra.

>>> Harga Bitcoin Anjlok ke 61.000 Dollar AS akibat Arus Keluar ETF

Kebijakan penataan sumber daya manusia ini turut memicu respons dan analisis dari pelaku pasar modal terkait dampaknya terhadap performa keuangan perusahaan.

"Hal ini mendasari proyeksi margin EBITDA 2026 kami sebesar 48,7%, dengan perkiraan pemulihan menjadi 50,0% dan 50,3% masing-masing pada 2027 dan 2028," tulis Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, analis BRI Danareksa Sekuritas.

Meskipun ada tekanan jangka pendek, pihak sekuritas tetap memberikan penilaian positif terhadap prospek pergerakan saham perusahaan di lantai bursa.

"Kami mempertahankan rekomendasi buy, namun dengan target harga lebih rendah menjadi Rp3.750, mencerminkan pemangkasan EBITDA 2026—2028 sebesar 3,7%—5,4%," kata Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan.

Selain faktor internal dari program pensiun dini, fluktuasi nilai tukar dan rencana ekspansi teknologi diprediksi akan memengaruhi besaran belanja modal perseroan ke depan.

>>> Jadwal Bursa Transfer Musim Panas 2026 Resmi Dirilis, Liga Inggris Buka Paling Awal

"Menurut kami, kenaikan capex berpotensi dipicu depresiasi rupiah dan tambahan belanja untuk implementasi spektrum 5G," ucap Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan.