Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong komoditas pangan asal Indonesia masuk ke dalam rantai pasok katering haji Arab Saudi.

Langkah ini diambil untuk memenuhi besarnya konsumsi jutaan jemaah haji setiap tahun.

>>> Pemerintah Hormati Proses Hukum KPK dan Kejagung Terkait Korupsi Pejabat

Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf menyampaikan hal tersebut saat meninjau dua perusahaan penyedia layanan konsumsi di Madinah pada Jumat (5/6/2026).

Ia menilai peluang pasar katering haji dan umrah sangat besar bagi pelaku usaha nasional.

Menurut Irfan, Indonesia memiliki kapasitas yang memadai untuk memasok berbagai kebutuhan bahan baku menu makanan jemaah haji.

"Kita melihat ada banyak komoditas yang sebenarnya kita miliki, seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, dan bumbu masakan," ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa banyak bahan baku katering di Arab Saudi diduga kuat berasal dari Indonesia.

Namun, barang-barang tersebut masuk melalui jalur distribusi negara lain sehingga identitas asli komoditas Indonesia tidak terlihat langsung di pasar.

"Beberapa produk yang digunakan sebenarnya berasal dari Indonesia, tetapi masuk melalui jalur distribusi negara lain," kata Irfan.

Kondisi ini membuat merek asli komoditas Indonesia tidak dikenal di pasar Arab Saudi.

Langkah penguatan ekspor ini diharapkan membuka pangsa pasar baru bagi sektor hulu domestik, seperti petani, nelayan, serta industri makanan dan minuman nasional.

>>> FIFA Siapkan Hadiah Rp 15,5 Triliun untuk Piala Dunia 2026

Namun, komoditas pangan Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya pengiriman logistik ke Timur Tengah dan dinamika geopolitik kawasan.

"Peluangnya sangat bagus. Kita punya semua komoditas itu.

Tinggal bagaimana menyesuaikan standar dan aturan agar bisa masuk ke pasar Arab Saudi," ujar Irfan.