Mantan petinju nasional Pino Bahari tengah menghadapi masa sulit setelah mengalami kecelakaan sepeda motor di kawasan Sanur, Bali.

Peristiwa yang terjadi pada 13 April lalu itu menyebabkan tulang rusuk kiri dan kaki kirinya patah.

>>> Jorge Martinez Aspar Isyaratkan Holgado dan Alonso Naik ke MotoGP 2027

Pino yang kini berusia 53 tahun sempat pasrah karena keterbatasan dana sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.

Pino Bahari merupakan peraih medali emas Asian Games 1990.

Ia menjadi petinju terakhir Indonesia yang sukses mempersembahkan emas di ajang tersebut lebih dari tiga dekade lalu, setelah mengalahkan petinju Mongolia, Bandiin Altangerel, di kelas menengah 75 kg saat bertanding di Beijing.

Sebelum kecelakaan, Pino sempat kehilangan pekerjaan sebagai pelatih sasana di kawasan Canggu karena pengurangan anggota. Ia kemudian menyambung hidup dengan menjadi pengemudi online dan melatih tinju.

Pino memiliki rekam jejak besar, termasuk melatih Daud Yordan pada periode 2018 hingga 2019. Ia mempersiapkan Daud Yordan untuk menghadapi Anthony Crolla di Manchester, Inggris.

Dampak kecelakaan membuat Pino tidak berdaya karena operasi membutuhkan dana besar. Beruntung, sebagian besar beban biaya dapat diringankan melalui fasilitas jaminan kesehatan.

"Waktu itu, biaya operasi membutuhkan sekitar Rp200 juta. Beruntungnya sebagian besar masih ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Sekarang sudah berangsur membaik meskipun gerak saya terbatas," ujar Pino pada Selasa (5/5/2026).

Pada hari yang sama, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat sedianya dijadwalkan berkunjung ke kediaman Pino. Namun, agenda tersebut batal karena alasan tertentu.

>>> Veda Ega Pratama Tempel Ketat Brian Uriarte di Klasemen Rookie Moto3 2026

Taufik Hidayat bersama Menpora Erick Thohir diketahui sedang berada di Bali selama dua hari terakhir untuk menghadiri rangkaian acara resmi SEA Ministerial Meeting On Youth and Sports 2026.