Perusahaan keamanan siber Cisco resmi merilis Foundry Security Spec, sebuah kerangka kerja open-source yang dirancang untuk mengatasi kekacauan deteksi bug akibat halusinasi model AI.

Langkah ini menjadi jawaban atas tantangan tim keamanan yang kewalahan menghadapi serangan siber berkecepatan tinggi.

>>> Gugatan Nikita Mirzani terhadap Reza Gladys Ditolak Majelis Hakim

Siklus tradisional mencari dan menambal celah secara manual tidak lagi mampu mengejar kecepatan eksploitasi oleh peretas.

Di sisi lain, mengandalkan AI secara mentah-mentah juga bukan solusi instan karena risiko halusinasi dan banjir false positive.

Selama ini, banyak tim TI mencoba menggunakan Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT untuk mencari celah keamanan.

Namun, hasilnya sering kali tidak memuaskan karena AI justru menghasilkan temuan palsu dalam jumlah besar.

Blueprint Open-Source untuk Keamanan AI Perusahaan

Foundry Security Spec berfungsi sebagai cetak biru untuk membangun sistem evaluasi keamanan berbasis agentic AI.

Spesifikasi ini mencakup dua artefak utama: Spec Artifact yang berisi arsitektur dengan delapan peran agen inti, dan Constitution Artifact yang memuat 11 prinsip mutlak yang harus dipatuhi AI.

Spec Artifact mencakup delapan peran agen inti seperti Orchestrator, Detector, dan Validator, lengkap dengan 130 persyaratan fungsional.

Sementara Constitution Artifact berisi prinsip mutlak yang lahir dari pengalaman kegagalan di lingkungan produksi Cisco sendiri.

Kerangka ini bersifat model-agnostic dan stack-agnostic, sehingga dapat diterapkan dengan model AI dan infrastruktur perangkat lunak apa pun sesuai kebutuhan organisasi.

>>> ASUS Perkuat Lini ProArt dengan NVIDIA RTX Spark untuk Kreator AI

Tujuannya adalah mengubah LLM dari sekadar mesin penjawab menjadi agen otonom yang mampu memberikan temuan bug terprioritas dengan rantai asal-usul data yang transparan.