Pemilik bengkel Dolland Motor Electric di Bekasi, Abdulah, mengungkapkan bahwa ketidakseimbangan kondisi antar-sel baterai lithium-ion jenis silindrik sering menjadi pemicu penurunan performa sepeda motor listrik.

Masalah pada komponen vital ini membuat motor tidak bisa beroperasi optimal seiring waktu pemakaian.

>>> Kia Sportage Hybrid Mulai Diproduksi di Pabrik Hyundai Georgia yang Semula Khusus EV

Gejala yang muncul antara lain tenaga motor berkurang, indikator daya cepat habis, hingga pemutusan aliran listrik oleh sistem keamanan.

Penyebab dan Dampak Ketidakseimbangan Sel Baterai

Kondisi ini dipengaruhi beberapa faktor utama, seperti kualitas sel yang tidak seragam sejak awal, pemakaian berat dalam jangka panjang, serta modifikasi kendaraan yang menyimpang dari spesifikasi pabrikan.

Battery Management System (BMS) bertugas memantau tegangan, arus, suhu, dan kondisi setiap sel secara berkala.

Sistem proteksi elektronik ini akan menghentikan proses pengisian atau penyaluran daya saat mendeteksi parameter tidak normal, guna mencegah kerusakan fatal.

Penyebab utama gangguan ini berakar dari banyaknya jumlah sel silindrik yang dirangkai seri dan paralel dalam satu paket baterai motor modern.

Paket baterai motor listrik modern bisa terdiri dari puluhan hingga ratusan sel yang dirangkai secara seri dan paralel.

Penurunan performa pada sebagian kecil sel dapat mengacaukan keseimbangan tegangan keseluruhan paket.

>>> Adu Irit Yamaha FreeGo 125 vs Indomobil Emotor Sprinto: Bensin vs Listrik

“Kalau baterai litium ion, biasanya yang paling sering masalah itu yang sel silindrik, yang (bentuknya) tabung kayak baterai-baterai biasa itu,” kata Abdulah.

Akibat ketidakseragaman kualitas, paket daya yang digunakan berlebihan akan mengalami perbedaan performa antar-komponen di dalamnya.

“Biasanya dia, kalau dalam satu pak baterai itu, banyak paralelnya. Nah di situ kalau yang pakenya over juga ada yang jomplang-jomplang.

Kualitasnya enggak rata,” ujarnya.

Situasi tidak seimbang ini membuat modul proteksi membaca bahwa pasokan daya telah menyentuh batas aman minimum kendaraan.

“Sehingga sebenarnya kapasitasnya masih tinggi. Tapi kebaca di BMS-nya, modul untuk proteksi baterainya dibilang ini habis, maka di-stop gitu,” jelas Abdulah.

Meskipun sistem mematikan aliran listrik, kondisi nyata sel-sel penyusun baterai pada dasarnya tidak rusak permanen.

>>> Harga Mobil Diesel Juni 2026: Fortuner, Pajero Sport, GWM, Isuzu

“Sebenarnya enggak rusak, tapi biasanya unbalance gitu,” pungkasnya.