Ibrahima Konate mengungkapkan masa-masa kelam dalam hidupnya. Bek Liverpool itu mengalami depresi setelah dua sosok penting meninggal dunia dalam rentang waktu beberapa bulan.

Diogo Jota, penyerang Timnas Portugal, tewas dalam kecelakaan mobil pada Juli tahun lalu bersama adiknya.

>>> Negosiasi Kompensasi Maresca dengan Chelsea Masih Berjalan, City Optimis

Beberapa bulan kemudian, pada Januari 2026, ayah Konate, Hamady Konate, meninggal setelah sakit berkepanjangan.

Dalam wawancara dengan radio France Inter, Konate berbicara terbuka mengenai kondisi mentalnya. Ia menegaskan bahwa depresi bisa menyerang siapa pun, termasuk atlet profesional.

"Ada masa-masa terpuruk, ada depresi. Di sepak bola pun Anda bisa mengalami depresi dan tidak perlu malu untuk mengatakannya," ujar Konate.

Pemain berusia 27 tahun itu juga mengkritik pandangan publik yang menganggap pemain bergaji tinggi tidak mungkin mengalami gangguan kejiwaan.

Menurutnya, anggapan itu keliru dan tidak membantu.

"Saya sering mendengar pemain mengatakan bahwa mereka mengalami depresi, tetapi suporter atau orang-orang di luar sana tidak memahaminya karena para pemain menghasilkan banyak uang.

Itu omong kosong dan tidak seharusnya dikatakan," tegasnya.

Konate menggambarkan bagaimana depresi menyerang dari dalam. Perasaan itu bermula dari hati, naik ke pikiran, lalu menguasai seluruh tubuh.

"Bagi saya, itulah yang sulit, dan karena itu kita perlu membicarakannya," katanya.

Kehilangan Bertubi-tubi

Kabar meninggalnya Jota sangat menghancurkan Konate. Selain rekan setim, Jota juga merupakan tetangganya di Merseyside.

"Itu menghancurkan saya. Pada saat itu, saya tidak tertarik pada apa pun lagi," kenang Konate.

Meski berduka, Konate tetap menjalankan kewajiban profesionalnya. Ia sadar sebagai pemain klub, dirinya memiliki tanggung jawab terhadap Liverpool.