"Anda kembali bermain sepak bola karena tidak punya pilihan lain. Kami adalah karyawan klub yang membayar kami setiap bulan, jadi kami memiliki tanggung jawab," jelasnya.

Ia berusaha bermain untuk menghormati Jota dan keluarganya. Namun, ia mengakui bahwa tidak ada cara untuk benar-benar melupakan kepergian rekan setimnya.

Di saat bersamaan, kondisi ayahnya terus memburuk. Konate sempat bingung antara merawat keluarga atau tetap membantu tim.

"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak tahu apakah saya harus pulang dan berhenti bermain karena tim juga membutuhkan saya," ungkapnya.

Kebingungan itu membuatnya memilih memendam masalah sendirian. Ia tidak tahu harus berkonsultasi kepada siapa.

>>> Laga Kandang Perdana Herdman: Indonesia Jamu Oman di SUGBK

"Saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa mengenai semua ini, jadi saya menyimpannya sendiri.

Karena itu, nasihat saya untuk semua orang adalah ketika Anda sedang terpuruk atau menghadapi masalah, bicaralah dengan orang-orang di sekitar Anda," pesannya.

Ia sendiri baru menyadari manfaat keterbukaan setelah terlambat. Saat ayahnya sakit, ia memilih diam.

Dokter sempat memberi tahu keluarga bahwa waktu sang ayah tidak lama lagi. Namun, kepergiannya tetap mengejutkan.

"Kami tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat itu," lanjut Konate.

Ia mempersingkat cuti belasungkawa pada akhir Januari untuk membantu Liverpool yang sedang krisis cedera. Meski kembali bermain, performanya tidak pernah pulih sepenuhnya.

Pada musim 2025/2026, Konate tampil dalam 51 pertandingan dengan 49 sebagai starter. Namun, konsistensinya menurun drastis dibanding empat musim sebelumnya.

Liverpool pun finis di peringkat kelima Premier League.

Proses Pemulihan yang Berat

Konate mengaku tidak pernah merasa benar-benar mulai membaik. Rentetan tragedi datang terlalu cepat.