Perawatan pasien skizofrenia kini tidak hanya berfokus pada gejala kejiwaan. Kesehatan fisik, terutama kondisi metabolik, juga menjadi perhatian utama.

Pasien skizofrenia memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas, prediabetes, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

>>> Unai Simon vs Emi Martinez Berebut Golden Glove di Final Piala Dunia 2026

Faktor penyebabnya meliputi pola hidup, perubahan metabolisme, dan efek samping obat antipsikotik generasi kedua.

Temuan terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry memperkuat pentingnya pendekatan ini.

Uji klinis The HISTORI Randomized Clinical Trial menunjukkan kondisi metabolik pasien skizofrenia dapat diperbaiki tanpa mengganggu stabilitas mental.

Penelitian melibatkan 154 pasien berusia 18-60 tahun dengan diagnosis skizofrenia atau gangguan terkait.

Seluruh peserta menjalani terapi antipsikotik generasi kedua dan mengalami prediabetes serta obesitas atau kelebihan berat badan.

Selama 30 minggu, peserta secara acak menerima semaglutide dosis 1 miligram atau plasebo, sementara terapi antipsikotik tetap dilanjutkan.

Kelompok yang mendapat semaglutide mengalami penurunan berat badan rata-rata 9,21 kilogram.

Kadar HbA1c, indikator pengendalian gula darah, juga turun sebesar 0,46 persen.

Sebanyak 81 persen peserta pada kelompok semaglutide mencapai kadar HbA1c normal di bawah 5,7 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok plasebo yang hanya 19 persen.

Peneliti juga mencatat perbaikan profil lemak darah, seperti peningkatan kolesterol baik (HDL) dan penurunan trigliserida. Hal ini diikuti dengan peningkatan kualitas hidup dari sisi kesehatan fisik.

>>> Netanyahu Dukung Argentina di Final Piala Dunia 2026, Sebut Milei Teman Sejati

Gejala Kejiwaan Tetap Stabil

Salah satu kekhawatiran dalam penelitian ini adalah apakah perbaikan metabolik memengaruhi stabilitas kesehatan mental. Hasilnya, tidak ditemukan perburukan gejala skizofrenia atau penurunan kualitas hidup terkait kesehatan mental.