Kalender Hijriah terus berputar, membawa umat Islam memasuki bulan Safar. Bagi sebagian masyarakat, bulan ini mungkin masih lekat dengan mitos-mitos yang keliru. Namun, di balik stigma yang sering kali salah kaprah, Safar sejatinya menyimpan sejarah agung tentang perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan iman.
 
Menyambut Jumat terakhir bulan ini, yang jatuh pada 24 Juli 2026, Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LD PWNU) Jawa Tengah merilis naskah Khutbah Jumat bertema "Meraih Keberkahan di Bulan Safar".
 
Naskah yang disusun oleh Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LD PCNU) Kabupaten Pati, KH Sanmuin, ini tidak hanya mengajak umat untuk mengenang peristiwa Hijrah, tetapi juga memberikan panduan psikologis-spiritual tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi ujian kehidupan.
 

Menghapus Mitos, Mengenang Sejarah Agung

Selama berabad-abad, terdapat kepercayaan keliru di sebagian masyarakat Nusantara yang menganggap bulan Safar sebagai bulan sial, bulan bala, atau bulan yang identik dengan hal-hal mistis. Padahal, dalam kacamata sejarah Islam dan akidah yang lurus, Safar adalah bulan yang mulia.
 
Pada penghujung bulan inilah, Nabi Muhammad SAW dan sahabat setia, Abu Bakar Ash-Shiddiq, melaksanakan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan fisik untuk menghindari ancaman kaum Quraisy, melainkan sebuah hijrah spiritual—sebuah titik tolak peradaban Islam untuk tumbuh dan berkembang dalam naungan kedamaian.
 
"Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan spiritual yang sarat dengan ujian, pengorbanan, dan kesabaran," ujar KH Sanmuin dalam pengantar naskah khutbahnya.
 

Esensi Hijrah di Era Modern

Apa makna hijrah bagi umat Islam di tahun 2026 ini? KH Sanmuin mengingatkan bahwa hijrah adalah tentang bermigrasi dari keputusasaan menjadi harapan, dari kebiasaan buruk menuju kebaikan, dan dari ketergantungan pada makhluk menjadi tawakal penuh kepada Sang Pencipta.
 
Dalam proses "hijrah" menghadapi dinamika kehidupan modern—baik itu krisis ekonomi, ujian kesehatan, maupun goncangan sosial—kesabaran menjadi kunci utama. Kesabaran yang diajarkan dalam Islam bukanlah sikap pasrah yang lemah, melainkan keteguhan hati dan kepercayaan penuh pada janji Allah SWT di tengah badai cobaan.