Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Kamis, 4 Juni 2026.

Mata uang Garuda diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di akhir sesi.

Pada perdagangan sebelumnya yang ditutup Rabu, 3 Juni 2026, rupiah sudah terpangkas sebesar 0,71 persen atau merosot 125,50 poin.

Kondisi tersebut membuat posisi rupiah berada di level Rp17.966 per dolar AS.

Untuk pergerakan hari ini, nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal berada pada rentang Rp17.960 hingga menembus angka Rp18.030 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS justru terpantau menguat tipis 0,09 persen ke posisi 99,30.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, memberikan penjelasan mengenai faktor yang menekan rupiah.

Ia menyebutkan bahwa para investor saat ini tengah memantau ketat situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.

Kondisi terkini menunjukkan bahwa Israel masih terus melanjutkan operasi militernya di wilayah Lebanon Selatan. Hal ini menambah ketegangan di kawasan tersebut yang berdampak pada pasar keuangan global.

Situasi semakin pelik setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke wilayah Kuwait dan juga Bahrain. Gejolak keamanan ini memberikan sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ketegangan juga meluas ke area Selat Hormuz setelah pihak Amerika Serikat melakukan serangan di kawasan Pulau Qeshm milik Iran.

Perlu diketahui bahwa Selat Hormuz merupakan jalur laut yang sangat vital bagi distribusi minyak dunia.

Fakta penting mengenai signifikansi Selat Hormuz bagi ekonomi global:

  • Menjadi jalur utama bagi pengiriman energi internasional.
  • Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati jalur air ini setiap harinya.
  • Gangguan di wilayah ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
  • Ketidakpastian di jalur ini memberikan tekanan besar pada daya beli dan ketahanan eksternal negara importir.