Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis laporan terbaru mengenai prospek ekonomi Indonesia.

Dalam OECD Economic Outlook edisi Juni 2026, lembaga itu memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai 4,7%.

>>> KAI Resmi Tambah Armada KRL Rangkasbitung 2026, Solusi Bebas Antre

Penurunan laju pertumbuhan ini dipicu oleh sejumlah faktor krusial. Lonjakan harga komoditas energi dunia dan beban bunga yang meningkat menjadi pemicu utama.

Kondisi diperparah oleh kebijakan moneter yang semakin ketat. Selain itu, muncul ketidakpastian kebijakan di tingkat domestik.

OECD menyoroti bahwa kombinasi mahalnya harga energi global dan tingginya biaya pinjaman akan memberikan tekanan besar pada daya beli masyarakat.

Faktor-faktor tersebut diprediksi menghambat laju konsumsi rumah tangga serta menahan minat investasi dari sektor swasta.

Faktor Utama Perlambatan Ekonomi

Berikut faktor utama yang memengaruhi perlambatan ekonomi menurut laporan OECD:

  • Tingginya harga komoditas energi di pasar internasional yang memicu kenaikan biaya produksi.
  • Peningkatan biaya pinjaman sebagai dampak langsung dari pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral.
  • Meningkatnya sentimen ketidakpastian kebijakan yang membuat investor cenderung bersikap wait and see.
  • Lemahnya permintaan ekspor dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia yang sedang mengalami perlambatan ekonomi.
  • Potensi penurunan neraca transaksi berjalan akibat tingginya nilai impor minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Meskipun pemerintah telah berupaya menjaga harga BBM melalui skema subsidi, langkah ini dinilai tidak cukup.

Kenaikan harga energi tetap berdampak pada melonjaknya biaya input bagi sektor produktif seperti pertanian dan industri manufaktur.

OECD juga memperingatkan adanya risiko pertumbuhan ekonomi yang bisa jauh lebih rendah dari proyeksi awal.

Risiko ini muncul jika terjadi gangguan pada rantai pasokan energi global atau arus modal keluar yang masif.