Arus modal keluar yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan dapat memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Jika rupiah melemah signifikan, tekanan inflasi di dalam negeri akan semakin sulit dikendalikan.

>>> Pusat Finansial Internasional RI Resmi Diatur RUU P2SK 2026, Ini Kata Purbaya

Proyeksi Indikator Makroekonomi 2026

Berdasarkan data OECD, pertumbuhan ekonomi (PDB) diproyeksikan sebesar 4,7%. Tingkat inflasi tahunan diperkirakan mencapai 3,4% dengan penyebab utama kenaikan harga komoditas energi.

Risiko utama yang diidentifikasi adalah ketidakpastian kebijakan dan arus modal keluar. Inflasi yang didorong volatilitas harga energi menuntut kewaspadaan otoritas fiskal dan moneter.

Di tengah berbagai tantangan, masih terdapat peluang bagi Indonesia untuk melampaui angka proyeksi. Kuncinya terletak pada peran Danantara dalam menggerakkan roda ekonomi melalui modal luar negeri.

Jika Danantara sukses menarik minat modal swasta internasional dan menyalurkannya ke proyek infrastruktur strategis, target pertumbuhan bisa lebih optimis.

Investasi pada sektor industri dengan dampak berganda tinggi diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru.

Kehadiran Danantara diharapkan tidak hanya menjadi pengelola aset, tetapi juga katalis yang memberikan kepastian bagi investor global.

Dengan demikian, kekhawatiran mengenai ketidakpastian kebijakan dapat diredam melalui transparansi dan tata kelola investasi yang profesional.

Perkembangan regulasi dalam negeri terus dipantau pelaku usaha, termasuk kebijakan kewajiban laporan ekspor melalui portal DJBC.

Penyelesaian laporan keuangan Danantara pada akhir Juni 2026 juga menjadi poin penting yang dinantikan pasar.

Secara keseluruhan, laporan OECD ini menjadi pengingat bagi pemerintah untuk segera memitigasi dampak eksternal dari harga energi dan bunga global.

>>> Cara Cek Status Desil di Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026, Praktis Lewat HP

Koordinasi kebijakan yang solid antara pemerintah dan otoritas terkait sangat diperlukan guna menjaga iklim investasi tetap kondusif.