BTN Antisipasi Lonjakan Risiko Kredit Akibat Kenaikan Suku Bunga
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengantisipasi potensi kenaikan loan at risk (LAR) di tengah kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Meski demikian, bank milik pemerintah ini memastikan kualitas aset tetap dalam kondisi aman dan terkendali.
>>> IHSG Ambrol ke Level 5.941 Sore Ini, 692 Saham Berguguran Bikin Panik Pasar
LAR BTN Turun 70 bps
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengungkapkan posisi LAR BTN pada kuartal I-2026 mencapai 19,6%.
Angka ini turun 70 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 20,3%.
"Kenaikan suku bunga memang dapat memengaruhi kemampuan bayar sebagian debitur, khususnya di segmen yang sensitif terhadap perubahan arus kas.
Namun secara keseluruhan, portofolio BTN tetap terkendali dan terus menunjukkan tren perbaikan," jelas Setiyo.
Risiko dari Debitur Pasca-Restrukturisasi
BTN menilai ancaman terhadap LAR kemungkinan besar berasal dari debitur yang arus kasnya belum pulih sepenuhnya setelah restrukturisasi.
Risiko juga dapat muncul dari sebagian portofolio komersial serta segmen tertentu di consumer banking.
>>> Pemerintah Cairkan Rp24 Triliun untuk Gaji Ke-13 ASN 2026
Mitigasi Risiko
Untuk menangkal kemunduran kualitas kredit, BTN memperkuat mitigasi risiko melalui sistem peringatan dini, monitoring kualitas kredit yang lebih ketat, dan pengujian tekanan (stress testing) di portofolio.
Bank juga menerapkan strategi pengumpulan dan pemulihan yang lebih tersegmentasi.
Kredit baru tetap disalurkan secara selektif dan terukur, terutama pada sektor dengan prospek baik yang sejalan dengan bisnis inti di ekosistem perumahan.
Setiyo menambahkan bahwa pendekatan BTN akan lebih hati-hati berdasarkan selera risiko, kualitas peminjam, kemampuan bayar, dan prospek bisnis.
BTN juga meningkatkan proses penjaminan dengan pendekatan berbasis data agar pertumbuhan kredit tetap sehat.
Fokus Cegah LAR Jadi NPL
Langkah utama BTN adalah memastikan kenaikan LAR tidak berubah menjadi kredit macet atau non-performing loan (NPL).
>>> Libur Sekolah Semester Genap 2026 Berlangsung 16 Hari, Ini Jadwal dan Pilihan Wisata di Jakarta
Strategi yang digunakan meliputi penguatan monitoring dini, intensifikasi pemulihan kredit, restrukturisasi selektif bagi debitur yang berpotensi, serta percepatan penyelesaian kredit bermasalah melalui pemulihan dan penjualan aset.
Update Terbaru
Potongan Sadis Dracula (1958) Ditemukan Setelah Dianggap Hilang
Rabu / 03-06-2026, 17:50 WIB
Jadwal Pencairan Gaji ke-13 ASN, TNI, Polri 2026 Resmi Rilis, Cek Besaran Terbarunya
Rabu / 03-06-2026, 17:50 WIB
Cara Klaim DANA Kaget Hari Ini Juni 2026, Saldo Gratis Langsung Cair
Rabu / 03-06-2026, 17:50 WIB
Francesco Bagnaia Incar Kebangkitan di MotoGP Setelah Raih Podium GP Italia
Rabu / 03-06-2026, 17:45 WIB
Serial The Scene di Vidio Jadi Inspirasi Generasi Muda 2026
Rabu / 03-06-2026, 17:45 WIB
Hisense Mini-LED U7SE Resmi Meluncur, TV Gaming 144 Hz Terbaru Mulai Rp11 Jutaan
Rabu / 03-06-2026, 17:45 WIB
Iker Lecuona Gantikan Alex Marquez di MotoGP Hungaria 2026
Rabu / 03-06-2026, 17:40 WIB
Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Ini Faktor Mengejutkan Terbaru 2026
Rabu / 03-06-2026, 17:40 WIB
Rupiah Nyaris Rp18.000 per USD, IHSG Anjlok 4,9% ke 5.889
Rabu / 03-06-2026, 17:40 WIB
Toyota Perbarui Alphard dan Vellfire, Harga Mulai Rp500 Jutaan
Rabu / 03-06-2026, 17:35 WIB
IHSG Amblas Nyaris 5 Persen di Sesi I 2026, Ini Penyebabnya
Rabu / 03-06-2026, 17:35 WIB
Drama WoW Race to World First: Kejutan Phase Rahasia Liquid yang Mengejutkan 2026
Rabu / 03-06-2026, 17:35 WIB
Jetour Perkenalkan SUV Turbo T1 dengan Harga Promo Rp 388 Juta
Rabu / 03-06-2026, 17:30 WIB
Siswa SMA ABBS Borong Juara O2SN 2026, Bukti Pendidikan Unggulan
Rabu / 03-06-2026, 17:30 WIB






