Pemerintah daerah menargetkan pendirian sekitar 134 unit SPPG yang tersebar merata di seluruh wilayah Bumi Intanpari. Adhe memastikan operasional yang berjalan telah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan satgas.

Pemkab Karanganyar terus mempererat koordinasi antar-lembaga guna meminimalkan hambatan teknis. Sistem pelaporan juga terus dibuka bagi masyarakat agar kendala dapat segera direspons.

>>> Danantara Pangkas 44 Anak-Cucu Usaha PLN Jadi 23 Entitas pada 2028

“Sejauh ini, pelaksanaan program MBG di Karanganyar berjalan lancar tanpa kendala besar. Kami terus melakukan evaluasi rutin agar setiap tantangan bisa dicarikan solusinya dengan cepat,” tegas Adhe.

Evaluasi berkala mencakup beberapa aspek penting, antara lain:

  • Standar kualitas layanan dan kebersihan di setiap dapur SPPG.
  • Keanekaragaman dan kandungan nutrisi dalam variasi menu.
  • Ketepatan waktu serta efisiensi distribusi makanan.
  • Keamanan pangan untuk mencegah insiden kesehatan atau keracunan.

Adhe menambahkan bahwa kasus kejadian luar biasa (KLB) keracunan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu sudah tidak ditemukan lagi berkat pengawasan ketat.

Rencana Evaluasi Menyeluruh dan Pemberdayaan UMKM

Dalam waktu dekat, Pemkab Karanganyar menjadwalkan pertemuan besar dengan seluruh mitra pelaksana program MBG. Pertemuan ini akan mengumpulkan pengelola SPPG, kepala dapur, hingga yayasan yang terlibat.

Agenda utama adalah evaluasi menyeluruh terhadap kinerja setiap unit pelaksana. Melalui pemetaan kendala, pemerintah berharap standar pelayanan di semua SPPG meningkat secara seragam.

Paralel dengan evaluasi, Pemkab Karanganyar juga mendorong keterlibatan UMKM dalam penyediaan bahan baku pangan. Tim terkait tengah melakukan pendataan intensif mengenai kebutuhan berbagai komoditas pangan utama.

Rincian kebutuhan bahan pangan dari sumber lokal meliputi:

  • Protein hewani (telur dan daging) dari peternak lokal Karanganyar untuk meningkatkan pendapatan peternak rakyat.
  • Sayur-mayur dan bumbu dari petani sayur daerah untuk memastikan kesegaran bahan baku setiap hari.
  • Bahan pangan lainnya dari UMKM dan pemasok lokal untuk memperkuat rantai pasok ekonomi daerah.

Langkah strategis ini diambil untuk menjamin stabilitas pasokan sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

Dengan menyerap produk lokal, aliran dana program MBG akan berputar di dalam ekosistem ekonomi Kabupaten Karanganyar.

Adhe optimistis dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan penguatan tata kelola di tingkat daerah, program ini akan berkelanjutan.

Ia berharap MBG menjadi solusi jangka panjang bagi perbaikan gizi sekaligus pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi.

“Cita-cita kami adalah program ini tidak hanya mencetak generasi yang sehat dan cerdas, tetapi juga mampu menghidupkan sektor produsen pangan lokal.

>>> Aksesi OECD Masuk Tahap Tinjauan Teknis, Airlangga: Resmi Menuju 2026

Kolaborasi semua pihak menjadi kunci utama agar manfaatnya dirasakan oleh semua lapisan,” tutup Adhe Eliana.