Perusahaan fintech peer-to-peer lending, PT Sahabat Mikro Fintek atau Samir, mengungkapkan berbagai variabel yang berisiko meningkatkan angka kredit macet pada 2026.

Direktur Operasional Samir, Junjungan Pramana Putra Rumapea, menyebut rendahnya literasi dan minimnya edukasi keuangan digital sebagai pemicu utama.

>>> Rupiah Melemah Mengejutkan Pagi Ini, Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Gaya hidup konsumtif yang berlebihan dari peminjam juga dinilai sangat berpengaruh terhadap potensi gagal bayar.

Faktor Teknis dan Perilaku Peminjam

Junjungan menambahkan bahwa situasi ekonomi yang tidak menentu turut berdampak pada kemampuan bayar nasabah.

Kondisi ekonomi global dan nasional yang fluktuatif berimbas pada penurunan daya beli serta stabilitas pendapatan borrower.

Aspek teknis seperti sistem penilaian kredit yang kurang akurat juga memegang peranan dalam meningkatkan risiko.

Jika mitigasi risiko tidak optimal, potensi kredit bermasalah semakin besar sejak awal penyaluran pinjaman.

Fenomena "gali lubang tutup lubang" atau over leveraging, di mana nasabah meminjam di banyak tempat, menjadi catatan serius bagi manajemen Samir.

Masalah ini diperparah jika proses penagihan tidak berjalan efektif sehingga angka kredit macet terus naik.

Beberapa faktor utama penyebab naiknya angka kredit macet menurut Samir adalah:

  • Kurangnya pemahaman dan literasi masyarakat terkait layanan keuangan digital.
  • Pola konsumsi masyarakat yang berlebihan atau budaya konsumerisme tinggi.
  • Ketidakpastian kondisi ekonomi yang mengganggu stabilitas penghasilan peminjam.
  • Sistem penilaian kelayakan kredit yang tidak presisi dalam memetakan risiko nasabah.
  • Praktik penggunaan pinjaman baru untuk melunasi utang lama (over leveraging).
  • Metode penagihan yang kurang optimal dalam menjaga tingkat pengembalian dana.

Risiko kredit macet tidak hanya bersumber dari perilaku nasabah, tetapi juga dipengaruhi oleh efektivitas sistem internal perusahaan fintech.