Data di atas menunjukkan tekanan yang cukup signifikan terhadap mata uang domestik dalam kurun waktu singkat.

Fluktuasi ini dipicu oleh berbagai dinamika di pasar energi dan kebijakan moneter internasional.

Pemicu Pelemahan Mata Uang Domestik

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa harga minyak dunia yang fluktuatif menjadi salah satu penyebab pelemahan rupiah.

Pasar energi global masih penuh ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah.

Ibrahim menjelaskan bahwa pelaku pasar terus bereaksi terhadap berita mengenai negosiasi gencatan senjata. Berita yang saling bertentangan membuat premi risiko geopolitik tetap membayangi pergerakan harga minyak.

Sempat muncul harapan saat laporan mengenai draf kesepakatan antara Washington dan Teheran beredar. Kesepakatan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari tersebut awalnya dinilai dapat meredakan kekhawatiran pasar.

Namun, aktivitas pengiriman di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal kembali menahan optimisme tersebut.

Jalur strategis ini masih memiliki volume lalu lintas kapal yang lebih rendah dibandingkan sebelum konflik pecah.

Pengaruh Kebijakan The Fed di Amerika Serikat

Selain masalah minyak, kondisi ekonomi di Amerika Serikat juga memegang peranan krusial terhadap nilai rupiah. Data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.

Hal ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama.

Suku bunga yang tinggi membuat aset keuangan di AS menjadi jauh lebih menarik bagi investor.

Ibrahim menilai bahwa kebijakan suku bunga The Fed telah memicu terjadinya aliran modal keluar atau capital outflow.

Para investor global cenderung memindahkan aset mereka dari negara berkembang ke instrumen berisiko rendah di AS.

Obligasi Amerika Serikat yang menawarkan imbal hasil menarik menjadi tujuan utama para pemilik modal saat ini.

>>> Bocoran Terbaru iPhone Fold: Desain HP Lipat Apple 2026 Makin Nyata

Fenomena inilah yang pada akhirnya memberikan tekanan berat pada nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.