Ketegangan yang terus berlanjut di Selat Hormuz menjadi perhatian serius masyarakat internasional. Sejumlah lembaga keuangan dan perdagangan global mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi guncangan ekonomi.

Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Badan Energi Internasional (IEA), serta Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) secara kolektif menyoroti risiko ini.

>>> Daftar 23 Pemain Timnas Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026: Mathew Baker Masuk, Jay Idzes Absen

Mereka menilai konflik di Timur Tengah telah menciptakan gangguan nyata pada sektor energi dan pangan global.

Melalui pernyataan resminya pada Jumat (29/5/2026), keempat lembaga tersebut memaparkan bahwa perang ini membawa dampak asimetris yang cukup besar.

Hal ini mempengaruhi ketahanan ekonomi di berbagai wilayah, mulai dari negara berkembang hingga negara maju.

Kelompok negara yang paling rentan dianggap akan merasakan dampak paling pahit dari situasi ini.

Kenaikan harga bahan bakar dan biaya pupuk yang meroket menjadi ancaman serius bagi stabilitas domestik mereka.

Negara-negara industri di Belahan Bumi Utara juga diprediksi tidak akan lolos dari efek domino ini. Krisis energi yang meluas diperkirakan bakal menekan pertumbuhan ekonomi mereka secara signifikan.

Penurunan Cadangan Minyak Drastis

Fokus utama kekhawatiran global saat ini tertuju pada penurunan cadangan minyak mentah dunia yang sangat drastis.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur urat nadi distribusi energi, kini mengalami hambatan operasional yang serius.

Data menunjukkan bahwa persediaan minyak global menyusut dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Kondisi ini dipicu langsung oleh hilangnya volume pasokan yang biasanya mengalir melalui jalur strategis tersebut.

Situasi ini kian mengkhawatirkan karena terjadi tepat sebelum memasuki puncak permintaan energi saat musim panas di negara-negara utara.