Ia mengaku sedang berada di bagian resepsionis ketika melihat anak-anak berlarian keluar dari ruang tunggu.

Anak-anak berteriak histeris sambil berlarian menjauh dari area televisi lounge kapal. Sejumlah orang tua yang tampak marah segera keluar untuk mencari petugas dan meminta televisi dimatikan.

>>> Neverness to Everness Resmi Rilis, Klaim 470 Free Pull Tanpa Ribet

Meski beberapa penumpang tidak melihat visualnya secara langsung, suara dari film tersebut terdengar sangat keras di ruangan.

Suasana menjadi sangat kacau karena orang tua harus memberikan penjelasan sulit kepada anak-anak mereka.

Penumpang tersebut menambahkan bahwa momen itu benar-benar terlihat gila dan penuh dengan kekacauan.

Para staf kapal feri baru menyadari kesalahan tersebut setelah mendapat protes keras dari para orang tua yang merasa dirugikan.

Televisi akhirnya berhasil dimatikan secara total oleh salah satu anggota kru yang bertugas saat itu.

Namun, dampak psikologis dan rasa malu para penumpang tetap membekas sepanjang sisa perjalanan menuju Inggris.

Respons dan Permintaan Maaf dari Perusahaan

Pihak manajemen DFDS tidak tinggal diam setelah insiden memalukan ini menyebar luas dan menjadi perbincangan publik.

Melalui juru bicara resminya, perusahaan pelayaran tersebut menyampaikan permintaan maaf yang mendalam kepada seluruh penumpang.

Penayangan konten dewasa tersebut murni merupakan kesalahan teknis yang sama sekali tidak direncanakan. Perusahaan mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan konten siaran setelah acara utama berakhir.

DFDS berkomitmen untuk melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Meskipun penjelasan resmi telah diberikan, insiden ini tetap menjadi sorotan tajam di dunia maya.

Banyak pihak menyayangkan sistem kontrol televisi di transportasi publik yang dianggap sangat lemah. Konten sensitif bisa lolos dengan mudah tanpa pengawasan yang ketat.

Kini, perusahaan berjanji akan lebih memperketat protokol operasional di area publik kapal mereka.

>>> Kasus HIV/AIDS Solo Tertinggi Kedua di Jateng, Mayoritas Warga Luar Daerah

Hal ini dilakukan demi menjaga kenyamanan serta keamanan moral para penumpang, terutama keluarga yang membawa anak-anak di bawah umur.