Kota Solo tercatat sebagai wilayah dengan temuan kasus HIV/AIDS tertinggi kedua di Provinsi Jawa Tengah.

Data resmi dari Buku Provinsi Jawa Tengah Dalam Angka 2025 yang dirilis BPS Jawa Tengah menunjukkan ada 412 kasus sepanjang tahun 2025.

>>> Dilema Upah Layak di Pesantren: Menanti Keadilan bagi Pengajar di 2026

Angka ini menempatkan Solo di bawah Kota Semarang yang memiliki 665 kasus.

Tanggapan Pemerintah Kota Solo

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menegaskan bahwa tingginya temuan kasus ini menjadi perhatian serius. Pihaknya berkomitmen memperkuat strategi pencegahan dan penanggulangan secara berkelanjutan.

“Hal ini menjadi bentuk keseriusan kami sebagai wujud komitmen dalam pemberantasan AIDS,” ujar Respati dalam keterangan resminya. Ia menyebut masalah ini akan diselesaikan melalui sosialisasi intensif kepada masyarakat.

Pemerintah Kota Solo berencana memperluas jangkauan edukasi risiko HIV/AIDS melalui berbagai kanal. Edukasi akan menyasar institusi pendidikan formal maupun nonformal.

“Edukasi akan kami berikan secara terus-menerus. Komisi Penanggulangan AIDS akan kami terjunkan langsung ke tengah masyarakat,” tambah Respati.

Menurut Wali Kota, pergaulan bebas merupakan salah satu pemicu utama penularan. Oleh sebab itu, pencegahan harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.

“Kami akan lebih intensif mencegah penyebaran AIDS. Program Kelurahan Peduli AIDS akan kami optimalkan kembali,” ujar Respati.

Ia juga menyiapkan terobosan dengan menitikberatkan edukasi di lingkungan sekolah.

Dominasi Warga Luar Daerah

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Retno Erawati Wulandari, memberikan penjelasan lebih mendalam. Menurutnya, tingginya angka temuan tidak otomatis berarti tingginya penularan di internal warga Solo.

Retno menekankan bahwa faktor utama adalah masifnya skrining dan deteksi aktif. Sekitar 80% dari total penderita yang terdeteksi merupakan warga dari luar daerah.