“Dari seluruh kasus yang ditemukan di Solo, hanya sekitar 20% yang benar-benar warga Solo. Sisanya warga dari luar kota,” ungkap Retno.

Ia menambahkan bahwa posisi Solo yang sering masuk tiga besar bukan hal baru. Hal ini mencerminkan aktifnya upaya pelacakan kasus oleh Dinas Kesehatan Kota Surakarta.

Strategi penemuan kasus yang agresif dianggap positif dalam memutus rantai penularan. Dengan ditemukannya kasus sejak dini, pasien dapat segera mendapatkan pendampingan medis.

“Semakin banyak kasus terdeteksi, semakin cepat pasien memperoleh pengobatan sehingga tidak menularkan kepada orang lain,” jelas Retno.

>>> Uji Coba BBM B50 di Kereta Api Berhasil, Begini Hasilnya

Retno membandingkan dengan masa lalu saat skrining belum masif. Kala itu, angka HIV di Solo tampak rendah bukan karena kasus sedikit, melainkan banyak penderita belum teridentifikasi.

“Jadi, tingginya temuan saat ini menunjukkan sistem deteksi sudah bekerja optimal,” tegasnya.

Selain keaktifan petugas, kelengkapan fasilitas medis di Solo menjadi daya tarik bagi warga luar daerah. Banyak pasien dari kabupaten tetangga sengaja datang ke Solo untuk memeriksakan kesehatan.

“Warga dari wilayah sekitar banyak memilih Solo karena fasilitas kesehatan lebih lengkap dan privasi lebih terjaga,” papar Retno.

Sinergi Lintas Sektor dan Penguatan Layanan

Selain pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika juga diidentifikasi sebagai faktor risiko signifikan. DKK Solo terus membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Kerja sama melibatkan puskesmas dengan Komisi Penanggulangan AIDS dan kader Warga Peduli AIDS di tingkat kelurahan hingga kecamatan.

Program meliputi penyuluhan rutin dan edukasi kesehatan langsung.

Langkah strategis yang dilakukan Pemerintah Kota Solo meliputi: bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk penyuluhan kesehatan reproduksi di sekolah, mengintegrasikan materi bahaya Napza ke dalam kurikulum, bermitra dengan DP3AP2KB untuk sosialisasi keluarga berkualitas, mewajibkan skrining HIV bagi ibu hamil, serta menjalin jejaring dengan LSM untuk memantau pasien agar tidak putus obat.