Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) menyoroti target lifting migas Indonesia tahun 2027.

Angka yang tertuang dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) dinilai tidak menunjukkan perkembangan berarti.

>>> Wali Kota Cup Bogor 2026: Ajang Resmi Cari Bibit Atlet dari 48 Tim Pelajar Terbaik

Target tersebut dianggap stagnan jika dibandingkan dengan target tahun berjalan. Kondisi ini memberikan sinyal kurang positif bagi ketahanan energi nasional ke depan.

Analisis Realita Industri Hulu Migas

Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap angka-angka dalam dokumen KEM-PPKF 2027. Menurutnya, penetapan target mencerminkan industri hulu migas yang sedang tidak bertenaga.

Ia menilai angka produksi menunjukkan kurangnya progres signifikan dalam kegiatan eksplorasi. Pengembangan wilayah kerja (WK) migas baru juga belum berdampak pada peningkatan lifting.

Berikut rincian target lifting migas dalam KEM-PPKF 2027:

  • Minyak Bumi: 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bph)
  • Gas Bumi: 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari (boepd)

Data ini menjadi acuan pemerintah dalam kebijakan fiskal jangka menengah. Target tersebut menjadi tolok ukur optimisme pemerintah terhadap sektor energi.

Dampak Ketidakpastian Kebijakan

Moshe mengamati gairah investasi di sektor hulu migas sempat menunjukkan tren positif pada pertengahan 2022. Momentum itu terjadi setelah industri bangkit dari tekanan pandemi Covid-19.

Namun, tren kenaikan tidak bertahan lama dan perlahan menurun. Moshe mengidentifikasi ketidakkonsistenan kebijakan sebagai salah satu penyebab utama kelesuan.

Ia menyoroti dua faktor krusial: proses pelelangan wilayah kerja (bidding) yang masih bermasalah, dan rendahnya minat perusahaan untuk menyuntikkan modal dalam eksplorasi baru.

Dua poin ini menjadi indikator utama bagi investor.